Thursday, July 12, 2012

Makalah Kimia Dasar


Penentuan Kadar Logam Berat (Pb, Cd, Cu, dan Zn) dalam  Air dan Sedimen di Muara Sungai Cisadane

 


Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah    : Kimia Dasar II
Dosen  : Yusraini DIS, M. Si


Disusun oleh :
Nurul Amilia
Muhammad Isa
Ali Panca
Irma Latifiananingsih

PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
2011


BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Perkembangan industri di Negara Indonesia bisa dibilang melaju sangat cepat, seperti dikota-kota besar seperti Jakarta. Pertumbuhan jumlah perindustrian diikuti oleh peningkatan hasil jumlah limbah, baik limbah padat, cair, maupun gas. Limbah tersebut mengandung bahan kimia yang beracun dan berbahaya (B3) dan masuk ke perairan Teluk Jakarta melalui 13 DAS (Daerah Aliran Sungai) yang bermuara ke perairan ini. Salah satu dari limbah B3 tersebut adalah logam berat. Kehadiran logam berat sangat mengkhawatirkan terutama yang bersumber dari pabrik, dimana logam berat banyak digunakan sebagai bahan baku maupun sebagai bahan penolong. Sifat beracun dan berbahaya dari logam berat ditunjukkan oleh sifat fisik dan kimia bahan baik dari segi kualitas dan kuantitasnya.
Salah satu Perairan muara Cisadane merupakan daerah yang berhadapan dengan Laut Jawa dan terletak di pantai Utara Kabupaten Tangerang yang dialiri oleh Sungai Cisadane, serta kaya akan hasil perikanan. Hampir 80% penduduk daerah ini adalah nelayan yang kehidupan sehari-harinya adalah menangkap ikan dan membudi-dayakannya di sekitar perairan tersebut. Penambahan jumlah penduduk dan komplek-komplek pemukiman disepanjang perairan tersebut terlihat pesat. Peningkatan perkembangan industri-industri di sepanjang Sungai Cisadane selain memberikan dampak positif terhadap pembangunan, juga dapat memberikan dampak negatif terhadap ekosistem perairan di sekitarnya. Dampak dari limbah yang dibuang ke Sungai Cisadane tidak hanya pada sungai tersebut tetapi juga berpengaruh hingga ke perairan tempat sungai tersebut bermuara muara yaitu Teluk Jakarta. Selain dari sungai tersebut, perkembangan industri di wilayah Jakarta yang pesat juga berakibat pada pembuangan air limbah industri-industri tersebut ke perairan Teluk Jakarta. Pemantauan kualitas air di perairan Teluk Jakarta perlu dilakukan sebagai salah satu usaha untuk menjaga kelestarian perairan Teluk Jakarta.

1.2       Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang, dapat dikemukakan permasalahannya adalah:
1.      Bagaimana peningkatan hasil jumlah  kadar logam berat  yang berada dalam air dan sedimen di perairan Sungai Cisadane, Banten?
2.     Apakah dampak yang terjadi akibat peningkatan kadar logam berat pada air laut terhadap proses metabolisme bagi organisme laut?
3.      Dampak dari limbah yang dibuang ke Sungai Cisadane juga berpengaruh hingga ke perairan tempat sungai tersebut bermuara muara yaitu Teluk Jakarta?

1.3       Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar dan sebaran logam berat di perairan muara Sungai Cisadane yang berada di Teluk Jakarta.


1.4       Manfaat Penulisan

Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa informasi,
analisis dan kajian mengenai logam berat di muara Sungai Cisadane. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan pengelolaan Perairan Muara Sungai Cisadane, baik untuk kegiatan budidaya (marine culture) maupun kegiatan penangkapan, dalam rangka  mewujudkan sumberdaya  perikanan yang tidak tercemar logam berat.

1.5       Pembatasaan Masalah

Adapun Batasan masalah yang dibahas dalam penulisan ini :
Lokasi objek studi dalam penulisan ini adalah di Perairan muara Cisadane, Kabupaten Tangerang, Banten. Pemilihan lokasi ini dilakukan karena :
a.    Perairan muara Cisadane merupakan daerah estuari yang berhadapan dengan Laut Jawa dan terletak di pantai Utara Kabupaten Tangerang yang dialiri oleh Sungai Cisadane, serta kaya akan hasil perikanan. Hampir 80 % penduduk daerah ini adalah nelayan yang kehidupan sehari-harinya adalah menangkap ikan dan membudi-dayakannya di sekitar perairan tersebut.
b.    Penambahan jumlah penduduk dan komplek-komplek pemukiman di sepanjang perairan tersebut terlihat pesat.
c.    Peningkatan perkembangan industri-industri di sepanjang sungai Cisadane selain memberikan dampak positif terhadap pembangunan, juga dapat memberikan dampak negatif terhadap ekosistem perairan di sekitarnya



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kondisi Umum

Description: http://moha-semac.com/id/images/SemacData/cisadane%20river.pngSungai Cisadane berasal dari Gunung Salak mengalir dari kota Bogor dan Tangerang kemudian bermuara di Laut Jawa. Panjang Sungai Cisadane sampai ke Mauk (Kabupaten Tangerang) adalah 137,8 km, dengan rata-rata kemiringan dari hulu (+3,019 m) sampai ke Mauk (+2m) adalah 21,9%
Sungai Cisadane yang terbentang dari kota Bogor hingga Kabupaten Tangerang memiliki fungsi penting yaitu untuk memenuhi hajat hidup orang banyak dengan segala aktivitasnya. Salah satunya adalah air Sungai Cisadane digunakan sebagai sumber bahan baku air minum. Fungsi ini mengharuskan adanya pelestarian kualitas air sungai sehingga tetap memenuhi standar baku mutu sebagai sumber bahan baku air minum.
Sisi lain aktivitas yang ada di sepanjang badan sungai adalah padatnya aktivitas industri. Dari sisi ini, industri memanfaatkan badan sungai untuk pembuangan limbahnya. Harapan dan keharusan yang ada adalah limbah itu sudah melalui tahap pengolahan limbah, tetapi banyaka industri yang justru mengabaikan hal tersebut. Inilah dua sisi yang saling beerpengaruh terhadap kualitas air sungai Cisadane, sehingga pemantauan terhadap kualitas sungai Cisadane sangat diperlukan.

2.2   Logam Berat
Logam berat adalah bahan-bahan alami yang berasal dan termasuk bahan penyusun lapisan tanah bumi. Logam berat tidak dapat diurai atau dimusnahkan. Logam berat dapat masuk ke dalam tubuh mahluk hidup melalui makanan, air minum, dan udara. Logam berat berbahaya karena cenderung terakumulasi di dalam tubuh mahluk hidup. Laju akumulasi logam-logam berat ini di dalam tubuh pada banyak kasus lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk membuangnya. Akibatnya keberadaannya di dalam tubuh semakin tinggi, dan dari waktu ke waktu memberikan dampak yang makin merusak.
Beberapa definisi terkait logam berat telah diusulkan oleh para ahli, ada yang mendasarkan pada densitas, ada yang mendasarkan pada nomor atom atau berat atom, dan definisi yang lain lagi menggolongkan logam berat ini berdasarkan sifat toxic nya.
Definisi yang umum digunakan saat ini menggolongkan logam berat sebagai golongan logam yang memiliki densitas melebihi 5,000 kg/m3. Pada dasarnya mahluk hidup juga memerlukan logam berat dengan jumlah takaran yang bervariasi. Manusia misalnya membutuhkan iron, cobalt, copper, manganese, molybdenum, dan zinc pada jumlah tertentu. Akan tetapi, pada jumlah berlebih, keberadaan logam berat tersebut mengakibatkan dampak yang merusak pada organ tubuh.  
Saat ini para ahli mulai mengklasifikasikan jenis-jenis logam berat terutama yang perlu menjadi fokus perhatian paling tinggi untuk dikendalikan keberadaannya di lingkungan. Logam-logam berat tersebut diantaranya adalah Ag, As, Cd, Co, Cr, Cu,  Hg, Mn, Mo, Ni, Pb, Sn, dan Ti.
Beberapa dari logam berat ini , pada takaran jumlah yang sedikit, sebenarnya berguna bagi mahluk hidup (Co, Cu, Cr, Ni) dan beberapa yang lain bersifat karsinogen (penyebab cancer) atau beracun/ berefek negatif pada organ-organ tertentu, seperti pada sistem  saraf pusat (Hg, Pb, As), organ ginjal atau liver (Hg, Pb, Cd, Cu), serta kulit, tulang, atau gigi (Ni, Cd, Cu, Cr).  Dalam bahasan kali ini, akan diurai tiga polutan utama logam berat di lingkungan yaitu Lead (Pb), Mercury (Hg) dan Cadmium (Cd).

2.3   Air
         
            Air adalah zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna dan bau, yang terdiri dari hidrogen dan oksigen dengan rumus kimiawi H2O. Karena air merupakan suatu larutan yang hampir-hampir bersifat universal, maka zat-zat yang paling alamiah maupun buatan manusia hingga tingkat tertentu terlarut di dalamnya. Dengan demikian, air di dalam mengandung zat-zat terlarut. Zat-zat ini sering disebut pencemar yang terdapat dalam air.

2.4  Pencemaran
          Pencemaran lingkungan  hidup menurut Undang­Undang  No 23 tahun 1997  adalah  masuknya atau  dimasukkannya makhluk  hidup, zat, energi, dan atau  komponen lain  ke  dalam lingkungan hidup  oleh kegiatan  manusia  sehingga  kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu  yang  menyebabkan lingkungan hidup tidak  dapat berfungsi sesuai dengan  peruntukkannya. Menurut  Odum (1996) pencemaran  perairan  adalah  suatu  perubahan fisika, kimia  dan  biologi yang  tidak  dikehendaki pada ekosistem perairan yang akan menimbulkan kerugian pada sumber kehidupan, kondisi kehidupan dan proses industri. Sedangkan menurut definisi GESAMP  (Group  of Expert  on  Scientific Aspect  on  Marine  Pollution) in Sanusi (2006) pencemaran laut diartikan sebagai masuknya zat­zat (substansi) atau energi  ke dalam lingkungan laut dan estuari baik langsung  maupun tidak langsung akibat adanya kegiatan manusia  yang  menimbulkan  kerusakan pada lingkungan  laut, kehidupan  di laut, kesehatan manusia,  mengganggu  aktivitas di laut  (usaha penangkapan, budidaya,  alur pelayaran) serta  secara  visual mereduksi keindahan  (estetika). Fardiaz (2006) mengistilahkan pencemaran air dengan istilah  yang  berbeda, yaitu  polusi air. Polusi air yang  dimaksud  adalah penyimpangan  sifat­sifat air dari keadaan normal.
Darmono  (1995) mengklasifikasikan sumber  pencemaran logam berat 
berdasarkan lokasinya :
1. pada perairan estuaria,  pencemaran memiliki hubungan yang  erat  dengan penggunaan logam oleh manusia. 
2. pada perairan laut lepas kontaminasi logam berat biasanya  terjadi secara  langsung  dari atmosfer  atau  karena tumpahan minyak dari kapal­kapal tanker yang melaluinya,
3. sedangkan di perairan sekitar pantai kontaminasi logam kebanyakan berasal dari mulut sungai yang  terkontaminasi oleh  limbah buangan industri atau pertambangan.
Penyebab terjadinya pencemaran lingkungan sebagian besar disebabkan oleh tangan manusia. Pencemaran air dan tanah adalah pencemaran yang terjadi di perairan seperti sungai, kali, danau, laut, air tanah, dan sebagainya. Tingkat pencemaran yang terberat adalah limbah industri yang dibuang atau dialiri ke sungai dan juga limbah tumpahan minyak di lautan. Pencemaran disungai dan di lautan ini membuat ekosistem didalam air menjadi berkurang bahkan mati. Untuk sungai, pembuangan limbah industri atau pabrik telah merusak ekosistem sungai mencapai puluhan kilometer. Limbah industri mengandung logam berat, toksin organik, minyak dan zat lainnya yang memiliki efek termal yang dapat mengurangi kandungan oksigen didalam air. Selain merusak sungai, limbah berbahaya ini juga dapat membahayakan kesehatan bagi masyarakat yang tinggal disekitar daerah sungai tersebut yang menggunakan air sungai untuk keperluan MCK (mandi, cuci, kakus).

2.5 Sedimentasi
Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditransport oleh media air, angin, es, atau gletser di suatu cekungan. Pengendapan material karena kecepatan tenaga media pengangkutnya berkurang. Macam sedimentasi adalah sebagai berikut Sedimentasi akuatis yaitu sedimentasi dari materi yang diangkut oleh air sungai, mengakibatkan timbulnya meander sungai, datran banjir, tanggl alam, delta dan bantaran sungai. Sedimentasi aedis yang terjadi karena pengendapan materi yang diangkut oleh angin, proses ini menyebabkan timbunya gumuk pasir yang menyerupai bulan sabit (barkhan) dan memanjang (whale buck). Dan sedimentasi glacial yang terjadi akibat pengikisan oleh gletser pada musim semi, yang mengakibatkan lembah berbentuk V berubah menjadi U.
Pada percobaan ini proses sedimentasi yang terjadi adalah sedimentasi akuatis karena materi yang mengendap diangkut oleh air sungai. Air sungai mengangkut partikel Lumpur dalam bentuk suspensi, ketika partikel mencapai muara dan bercampur dengan air laut, partikel lumpur akan membentuk partikel yang lebih besar dan mengendap di dasar perairan.
Sedimen laut menurut asalnya diklasifikasikan menjadi tiga kelompok yaitu lythogenous,biogenous dan hydrogenous. Lythogenous adalah sediment yang berasal dari batuan, umumnya berupa mineral silikat yang berasal dari pelapukan batuan. Biogenous adalah sedimen yang berasal dari organisme berupa sisa-sisa tulang, gigi atau cangkang organisme, sedangkan hydrogenous merupakan sedimen yang terbentuk karena reaksi kimia yang terjadi di laut.
Partikel sedimen mempunyai ukuran yang bervariasi, mulai dari yang kasar sampai halus. Skala Sedimen terdiri dari beberapa komponen, bahkan tidak sedikit sedimen yang merupakan pencampuran dari komponen-komponen tersebut. Adapun komponen itu bervariasi, tergantung dari lokasi, kedalaman dan geologi dasar. Pada saat buangan limbah industri masuk ke dalam suatu perairan maka akan terjadi proses pengendapan dalam sedimen. Hal ini menyebabkan konsentrasi bahan pencemar dalam sedimen meningkat.
Logam berat yang masuk ke dalam lingkungan perairan akan mengalami pengendapan, pengenceran dan dispersi, kemudian diserap oleh organisme yang hidup di perairan tersebut. Pengendapan logam berat di suatu perairan terjadi karena adanya anion karbonat hidroksil dan klorida. Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat bahan organik dan mengendap di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen sehingga kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibanding dalam air.
Konsentrasi logam berat pada sedimen tergantung pada beberapa faktor
yang berinteraksi. Faktor-faktor tersebut adalah :
1.      Sumber dari mineral sedimen antara sumber alami atau hasil aktifitas manusia. Melalui partikel pada lapisan permukaan atau lapisan dasar sedimen.
2.      Melalui partikel yang terbawa sampai ke lapisan dasar.
3.      Melalui penyerapan dari logam berat terlarut dari air yang bersentuhan.
Beberapa material yang terkonsentrasi di udara dan permukaan air mengalami oksidasi, radiasi ultraviolet, evaporasi dan polymerisasi. Jika tidak mengalami proses pelarutan, material ini akan saling berikatan dan bertambah berat sehingga tenggelam dan menyatu dalam sedimen. Logam berat yang diadsorpsi oleh partikel tersuspensi akan menuju dasar perairan, menyebabkan kandungan logam di air menjadi lebih rendah. Logam berat yang masuk ke sistem perairan, baik di sungai maupun lautan akan dipindahkan dari badan airnya melalui tiga proses yaitu pengendapan, adsorbsi, dan absorbsi oleh organisme-organisme perairan.
BAB III
Metode Penelitian

3.1       Tempat, Waktu, dan Tanggal Penelitian
Penelitian kandungan logam berat di perairan muara Sungai Cisadane dilakukan pada bulan Juli dan Nopember 2005.

3.2       Alat dan Bahan
Alat :
1.         GPS ( Global Positioning System)
2.         AAS ( Atomic Absorption Spectroscopy)
3.         Kertas Saring Selulosa
4.         Corong Pisah
5.         Freezer
6.         Beaker Teflon
7.         Oven
8.         Lumpang dan Alu

Bahan :
1.         HCl (Asam Klorida)
2.         HNO3 (Asam Nitrat) pH < 2
3.         Aquadest
4.         Sampling Air Sungai dari berbagai Stasiun
5.         Sedimen dari berbagai Stasiun yang ditentuka

3.3   Metode Sampling :
Posisi stasiun ditetapkan dengan menggunakan GPS (Global Positioning System). Contoh air lautdiambil dari 18 stasiun demikian juga untuk contoh sedimen yaitu 16 stasiun di muara Sungai Cisadane dan 2 stasiun disepanjang Sungai Cisadane.
Contoh air diambil dengan cara water sampling sebanyak 5 liter yang kemudian disaring dengan kertas saring selulosa nitrat yang sebelumnya dicuci dengan HNO3. Setelah itu air diawetkan juga dengan HNO3 (pH 2). Setelah diawetkan sampel dibawa ke laboratorium di jakarta dan dimasukkan kedalam corong pemisah lalu di ekstraksi dengan APDC/NaDDC/ MIBK.
            Contoh sedimen diambil menggunakan teknik grab, kemudian sampel sedimen dimasukkan kedalam botol polietilen, disimpan didalam lemari pendingin atau freezer lalu dibawa ke laboratorium oseanografi di jakarta. Lalu setelah di laboratorium di jakarta, sampel dikeringkan di oven dalam waktu 8 jam pada suhu 105oC. Setelah kering dibilas dengan air suling sebanyak 3 kali agar terbebas dari logam beratnya. Setelah dibilas, lalu dikeringkan lagi dan digerus sampai homogen. Ambil sampel yang telah homogen sebanyak 5gram dan di destruksi dengan HCl pada suhu diatas 100oC selama 8 jam. Untuk mendeteksi ada tidaknya kontaminasi selama pengambilan sampel, penyaringan, pengawetan dan transportasi ke Jakarta, maka dilakukan Metode Blanko (control).
Kadar logam berat (Pb, Cd, Cu, dan Zn) dalam contoh air dan sedimen ditentukan dengan AAS (Atomic Absorption Spectroscopy).







Bab iv
Pembahasan

Dari hasil analisis kadar logam berat dalam air laut dan sedimen disajikan pada Tabel 1. Tabel tersebut menunjukkan bahwa kadar logam berat (Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni ) dalam air laut di perairan muara Sungai Cisadane pada Juli 2005 pada umumnya lebih rendah dibandingkan pada bulan Nopember 2005. Kadar logam berat dalam air laut pada bulan Juli 2005 berkisar antara Pb ≤ 0,001-0,005 ppm, Cd ≤ 0,001-0,001 ppm, Cu ≤ 0,001-0,001 ppm, Zn ≤ 0,001 ppm dan Ni ≤ 0,001-0,003 ppm. Kadar logam berat (Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni ) dalam air laut di muara Sungai Cisadane yang cukup tinggi pada bulan Juli 2005 adalah logam Pb kemudian diikuti logam Ni, Cu, Zn dan Cd. Kadar logam Cd, Cu, Zn dan Ni pada bulan Juli 2005 di hampir setiap stasiun memiliki kadar yang rendah sekali yaitu < 0,001 ppm. Sedangkan pada bulan Nopember 2005 berkisar antara Pb ≤ 0,001- 0,003 ppm, Cd ≤ 0,001-0,001 ppm, Cu ≤ 0,001-0,004 ppm, Zn ≤ 0,001-0,003 ppm dan Ni ≤ 0,001-0,003 ppm (Tabel 1).
 









          Daerah muara dan sepanjang sungai kerap dijadikan alat transportasi, penggunaan motor pada alat transportasi laut membutuhkan bahan bakar dan menghasilkan buangan limbah Pb yang akhirnya mempengaruhi kualitas air laut di daerah tersebut. Tingginya kadar logam Pb pada bulan Juli 2005 dimungkinkan karena di lokasi tersebut merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal yang limbahnya terbuang ke laut. Umumnya bahan bakar minyak mendapat zat tambahan tetraetyl yang mengandung Pb untuk meningkatkan mutu, sehingga limbah dari kapal-kapal tersebut dapat menyebabkan kadar Pb di perairan tersebut menjadi tinggi. Rendahnya kadar logam berat pada bulan Juli 2005 dimungkinkan karena adanya proses pengenceran oleh faktor pola pasang surut. Saat melakukan sampling, keadaan gelombang air laut cukup besarberbeda dengan bulan Nopember 2005 dimana keadaan gelombang air laut cukup tenang, sehingga logam berat tersebut mengalami proses pengenceran cukup rendah. Namun pada bulan November 2005 kada logam berat yang cukup tinggi adalah Ni kemudian diikuti logam Cu, Pb, Zn dan Cd. Tingginya kadar logam berat Ni pada bulan November 2005 dimungkinkan karena bahan cemaran yang berasal dari darat banyak mengandung logam Ni. Saat pengambilan sampel pada bulan Nopember 2005, keadaan gelombang air laut cukup tenang sehingga kadar Cd, Cu dan Zn dalam air laut di setiap stasiun cukup tinggi yaitu berkisar antara <0,001-0,004 ppm (Tabel 1). Kadar logam berat dalam air laut yang sangat bervariasi di setiap stasiun pada umumnya ditemukan bulan November 2005. Kadar logam berat yang cukup tinggi pada umumnya ditemukan pada lokasi-lokasi yang lebih dekat ke pantai baik pada bulan Juli 2005 maupun November 2005 (Tabel 1, Gambar 1).
 












                                   
Hal ini menunjukkan bahwa sumber logam tersebut berasal dari aktivitas di darat.
Distribusi kandungan Pb merata per stasiunnya di masing-masing lokasi dan pada kedua periode tersebut. Distribusi logam Pb pada bulan Juli 2005 dan logam Cu pada bulan November 2005 dengan kadar yang tinggi ditemukan di dekat pantai dan menurun ke arah laut serta pada umumnya ditemukan di muka muara sungai yaitu Sungai Cisadane, Muarasaban dan Tanjung Pasir. Distribusi logam Pb dan Zn pada bulan Juli 2005 bervariasi dan merata di seluruh stasiun penelitian. Hal ini menjelaskan bahwa kemungkinan besar Cu yang dikandung di perairan ini berasal dari buangan sampah kota yang berasal dari kegiatan manusia di darat dan erosi batuan mineral, sedangkan logam Zn berasal dari batu dan lumpur lahar, banyaknya aktivitas manusia yang meningkatkan konsentrasi Zn dalam alam, seperti industribiji besi dan logam. Hal ini dimungkinkan bahwa bahan pencemar yang mengandung logam Pb, Cu dan Zn yang berasal dari darat cukup tinggi terbawa oleh air hujan kemudian mengalir ke laut melalui sungai.
 Distribusi kandungan Cd di muara sungai Cisadane di semua stasiun merata, tetapi tidak menunjukkan korelasi antara kadar Cd dengan jarak stasiun yang menjauhi muara. Kandungan Cd secara keseluruhan pada bulan Juli 2005 dan November 2005 adalah < 0,001 ppm. Secara umum kandungan logam berat antar stasiun di lokasi pengamatan menunjukkan distribusi yang seragam, baik stasiun yang dekat dengan muara sungai maupun stasiun yang jauh dari muara sungai. Logam berat yang semula terlarut dalam air sungai diadsorbsi oleh partikel halus (suspended solid) dan oleh aliran air sungai dibawa ke muara. Di muara, arus air sungai bertemu dengan arus pasang dan kondisi arus gelombang yang cukup tenang, sehingga logam tersebut mengalami pengenceran cukup rendah. Berdasarkan hasil pengamatan, kadar logam berat umumnya masih tergolong rendah, kualitas airnya masih tergolong baik karena tidak ditemukan adanya lokasi yang kadar logam berat yang melebihi NAB (Nilai Ambang Batas) baku mutu air laut untuk kehidupan biota laut. Bila mengacu pada NAB yang ditetapkan oleh pemerintah tahun 1988 untuk kepentingan kehidupan biota laut, yakni kadar Pb ≤ 0,075 ppm, Cd ≤ 0,01 ppm, Cu ≤ 0,06 ppm, Zn ≤ 0,1 ppn dan Ni ≤ 0,1 ppm maka kadar Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni di perairan muara Sungai Cisadane masih sesuai dan belum berbahaya bagi kehidupan biota yang hidup di perairan tersebut. Demikian juga bila mengacu pada NAB peruntukan kehidupan biota laut yang telah ditetapkan oleh pemerintah tahun 2004 yakni untuk logam Pb = 0,008 ppm, Cd ≤ 0,001 ppm, Cu ≤ 0,008 ppm, Zn = 0,05 ppm dan Ni = 0,05 ppm maka perairan muara Sungai Cisadane masih layak untuk kehidupan biota laut yang hidup di perairan tersebut.
Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa kadar logam berat (Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni) dalam sedimen yang ditemukan pada bulan Juli 2005 didominasi oleh logam Zn dengan urutan sebagai berikut Zn > Cu > Pb > Ni > Cd. Hal yang sama ditemukan pada pengamatan yang dilakukan pada bulan Nopember 2005. Pada bulan Juli 2005, kisaran logam berat Zn = 33,96-115,40 ppm, Cu = 8,15-34,59 ppm, Pb = 9,42-34,40 ppm, Ni = 4,44-8,46 ppm dan Cd = 0,02-0,03 ppm. Sedangkan pada bulan November 2005 logam berat Zn berkisar antara 43,87-172,78 ppm, Cu = 5,08-34,22 ppm, Pb = 10,32-37,50 ppm, Ni = 3,80-8,60 ppm dan Cd = 0,038-0,20 ppm (Tabel 1). Hampir semua logam berat yang ditemukan pada sedimen di perairan muara Sungai Cisadane dalam jumlah relatif tinggi, kecuali Cd ditemukan dalam jumlah sangat kecil, yakni < 0,014 – 0,20 ppm. Kadar logam berat Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni dalam sedimen di perairan muara Sungai Cisadane yang cukup tinggi pada umumnya ditemukan di stasiun 2, 3, 4, 5, 9, 11 dan 16 pada pengamata Juli 2005 (Gambar 1). Tingginya kadar logam berat dalam sedimen di stasiun tersebut menunjukkan bahwa terjadi akumulasi dalam sedimen. Hal ini terlihat dari komposisi (tekstur) sedimen tersebut yang berupa lumpur berwarna hitam, dimana lumpur tersebut mempunyai pori-pori yang cukup kecil, daya adsorbsinya cukup tinggi, sehingga kadar logam berat yang didapat cukup tinggi. Pada bulan Nopember 2005, kadar logam berat yang cukup tinggi ditemukan di stasiun 2, 4, 5, 9, 16, 17 dan 18 (Gambar 1). Hal yang sama juga diperoleh pada bulan Nopember 2005, yakni sampel sedimen mempunyai komposisi (tekstur) berupa lumpur berwarna hitam. Stasiun-stasiun tersebut berada dekat muara sungai dan pantai tempat berlabuh kapal-kapal yang selesai bongkar muat barang-barang yang diperlukan oleh industri dan masyarakat yang ada disekitar lokasi tersebut.
            Logam berat yang semula terlarut dalam air sungai diadsorbsi oleh partikel halus (suspended solid) dan oleh aliran air sungai dibawa ke muara. Air sungai bertemu dengan arus pasang di muara sungai, sehingga partikel halus tersebut mengendap di muara sungai. Hal inilah yang menyebabkan kadar logam berat dalam sedimen muara lebih tinggi dari laut lepas.
Pada umumnya muara sungai mengalami proses sedimentasi, dimana logam yang sukar larut mengalami proses pengenceran yang berada di kolom air lama kelamaan akan turun ke dasar dan mengendap dalam sedimen. Kadar logam yang cukup tinggi dapat dilihat dari nilai pH yang relatif bersifat basa (pH = 7,40-8,59 %o) di lokasi tempat logam tersebut sukar larut dan mengendap ke dasar perairan. Kadar logam berat dalam sedimen pada bulan Juli 2005 lebih rendah dibandingkan pada bulan November 2005, namun perbedaannya tidak begitu signifikan. Hal ini dimungkinan karena waktu pengambilan sampel pada bulan Juli 2005 dan November 2005 cukup berdekatan waktunya dan belum terjadi proses pengendapan logam ke dalam sedimen lebih lanjut sehingga kadar logam berat yang diperoleh memiliki perbedaan yang kecil.
Kadar logam berat di sedimen beberapa lokasi yang belum tercemar seperti daerah Tor Bay Grand Bretagne mempunyai kandungan Pb dengan kisaran antara 21,3-65,7 ppm, kandungan Cd dengan kisaran antara 0,020-0,070 ppm, kandungan Cu berkisar antara 0,2-0,7 ppm, kandungan Zn berkisar antara 10,7-42,0 ppm dan perairan lain di Indonesia yang belum tercemar memiliki kandungan Ni berkisar antara 10,7-42,0 ppm. Apabila kadar logam berat pada sedimen diperairan muara Sungai Cisadane dibandingkan dengan perairan di daerah yang belum tercemar tersebut maka dapat dikatakan bahwa kadar Pb dalam sedimen di muara Sungai Cisadane yang berkisar antara 10,32-37,50 ppm masih lebih rendah atau berada di kisaran nilai kandungan logam tersebut di perairan yang belum tercemar. Berdasarkan Reseau National d’Observation (RNO), kadar normal Pb dalam sedimen yang tidak terkontaminasi berkisar antara 10-70 ppm. Kadar Pb di sedimen perairan muara Sungai Cisadane masih lebih rendah dari nilai yang ditetapkan tersebut. Kadar Cd,Cu, Zn dan Ni di sedimen perairan muara Sungai Cisadane lebih tinggi dibandingkan dengan harga kandungan logam-logam tersebut di daerah perairan yang belum tercemar. Namun dalam lumpur di perairan bagian utara Bretagne ditemukan kadar Cu yang berkisar antara 4,4-41,6 ppm dan kadar Zn berkisar antara 38,8-268,0 ppm, yang memiliki harga lebih tinggi dibandingkan kandungan logam Cu dan Zn di sedimen perairan muara Cisadane.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sedimen di perairan ini telah terkontaminasi oleh logam berat Cd dan Ni dan belum terlalu tercemar oleh logam berat Pb, Cu dan Zn. Kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan dalam air laut. Hal ini menunjukkan adanya akumulasi logam berat dalam sedimen. Hal ini dimungkinkan karena logam berat dalam air mengalami proses pengenceran dengan adanya pengaruh pola arus pasang surut. Rendahnya kadar logam berat dalam air laut, bukan berarti bahan cemaran yang mengandung logam berat tersebut tidak berdampak negatif terhadap perairan, tetapi lebih disebabkan oleh kemampuan perairan tersebut untuk mengencerkan bahan cemaran yang cukup tinggi (Tabel 1). Baku mutu logam berat di dalam lumpur atau sedimen di Indonesia belum ditetapkan, padahal senyawa-senyawa logam berat lebih banyak terakumulasi dalam sedimen (karena proses pengendapan) yang terdapat kehidupan biota dasar. Biota dasar yang resisten terhadap perubahan kualitas lingkungan (tercemar oleh logam berat) dapat dijadikan sebagai indikator pencemaran.
 








Tabel 2 memperlihatkan kadar beberapa logam berat di perairan muara Sungai Cisadane dan beberapa perairan lain di Indonesia. Tabel tersebut menunjukkan bahwa kadar logam berat Pb, Zn dan Ni dalam air laut di muara Sungai Cisadane pada umumnya lebih rendah dibandingkan dengan perairan Teluk Jakarta, Teluk Banten-Merak dan Kalimantan Timur. Tingginya kadar Pb di perairan tersebut karena limbah dari kapal-kapal yang berlabuh di ketiga perairan tersebut lebih banyak dibandingkan dengan muara Sungai Cisadane. Kandungan Zn dan Ni yang tinggi dimungkinkan karena limbah industri yang ada di sekitar ketiga perairan tersebut. Kadar logam berat Cu di muara Sungai Cisadane ditemukan lebih tinggi dibandingkan dengan kadar logam tersebut di perairan Teluk Banten-Merak namun lebih rendah dibandingkan dengan kadar Cu yang ditemukan di Teluk Jakarta pada tahun 2003 dan 2004. Hal ini dimungkinkan karena limbah sampah kota berasal dari kegiatan manusia di darat yang mengalir ke perairan Teluk Jakarta lebih banyak dibandingkan dengan di muara sungai Cisadane.
Tabel 3 memperlihatkan kadar beberapa logam berat dalam sedimen di perairan muara Sungai Cisadane dan beberapaperairan lain di Indonesia. Tabel tersebut menunjukkan bahwa kadar logam berat Cd, Zn, Ni dalam sedimen di perairan muara Sungai Cisadane pada umumnya lebih rendah dibandingkan di perairan Teluk Jakarta, Teluk Banten-Merak dan muara Sungai Dadap. Namun perairan muara Sungai Cisadane paska banjir memiliki kadar logam Cd, Zn, Ni yang lebih tinggi dibandingkan ketiga perairan tersebut. Kadar logam berat Pb di sedimen muara Sungai Cisadane lebih rendah dibandingkan di perairan Teluk Jakarta, Teluk Banten-Merak, namun lebih tinggi dibandingkan dengan muara Sungai Dadap dan muara Sungai Cisadane paska banjir. Hal ini dimungkinkan karena di sekitar perairan Teluk Jakarta terdapat banyak industri dan padat penduduknya sehingga bahan pencemar yang mengalir ke perairan laut lebih tinggi dibandingkan di muara sungai Cisadane. Tingginya kadar Pb di perairan tersebut karena limbah dari kapal-kapal yang berlabuh di perairan tersebut lebih banyak dibandingkan dengan di muara Sungai Cisadane.


















                                                  BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kadar logam berat dalam sedimen di perairan muara Sungai Cisadane lebih tinggi dibandingkan dalam air laut. Yang menunjukkan adanya akumulasi logam berat dalam sedimen. Hal ini terjadi karena logam berat mengalami proses pengenceran dalam air dengan pengaruh pola arus pasang surut. Rendahnya kadar logam berat dalam air laut, bukan berarti bahan cemaran yang mengandung logam berat tersebut tidak berdampak negatif terhadap perairan, namun lebih disebabkan karena kemampuan perairan tersebut yang cukup tinggi untuk mengencerkan bahan cemaran. Secara umum kandungan logam berat antar stasiun di lokasi pengamatan menunjukkan distribusi yang seragam, baik stasiun yang dekat dengan muara sungai maupun stasiun yang jauh dari muara sungai.

5.2 Saran
Pada penelitian ini hanya dilakukan dengan cara pengambilan sampling air dan sedimen. Penelitian ini juga masih banyak kekurangan, diantaranya pengambilan sampling dalam jangka waktu yang terlalu singkat. Penelitian hanya dilakukan pada bulan juni dan november 2005. Hal ini membuat logam berat yang menjadi sedimen belum mengendap sempurna. Oleh karena itu tak terlihat perubahan yang signifikan dari kandungan logam berat yang diteliti sebelumnya. Dan bagi perusahaan industri  jangan mengalirkan limbah ke perairan secara langsung, tetapi limbah industri tersebut harus diolah dan dibuat aliran irigasi pembuangan limbah. Dan limbah tersebut harus dipikirkan untuk diolah kembali. Hal ini disebabkan  limbah buangan industri banyak mengandung logam berat. Hasil pengolahan limbah tersebut dapat dimanfaatkan untuk hal lain seperti  pupuk. Karena bagaimanapun juga, logam berat berguna untuk makhluk hidup dalam jumlah yang wajar.


Daftar pustaka

G. E. Batley, D. Garnerd, Water Research 11 (1977) 745.

K. W. Bruland, R. P. Franks; G. E. Kuaner, J. H. Martin, Anal. Chem. 105 (1979) 233.

D. H. Loring, R. T. T. Rantala, Geochemichal Analysis of Sediment and Suspended Particulated Matter, Fisheries and Marine Service Technical Report No. 700, Environmental Canada, 1977.

H. P. Hutagalung, Pencemaran Laut oleh Logam Berat: Status Pencemaran Laut di Indonesia dan Teknik Pemantauanya, P3O-LIPI, Jakarta, 1991.

Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Keputusan No. 02/MNKLH/I/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan, Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Jakarta, 1988.

Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Keputusan No. 51/MNKLH/I/2004 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Air Laut, Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Jakarta, 2004.

D. Taylor, Estuarine and Coastal Marine Science 2 (1974) 417.

J. M. Everaarts, Nederland Journal of Sea Research 23 (1980) 403.

No comments: