Thursday, July 12, 2012

Analisa dan Penentuan Partikulat, Nitrogen Dioksida (NO2), Sulfur Dioksida (SO2 ) , dan Amoniak (NH3) Udara Ambient


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN
Analisa dan Penentuan Partikulat, Nitrogen Dioksida (NO2), Sulfur Dioksida (SO2 ) , dan Amoniak (NH3) Udara Ambient






Di Susun Oleh :
ALI PANCA
1110096000028
Kimia III-A





PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2011



KATA PENGANTAR


            Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan hasil percobaan ini.
Adapun judul dari percobaan ini adalah “ Analisa dan Penentuan Partikulat, Nitrogen Dioksida (NO2), Sulfur Dioksida (SO2 ) , dan Amoniak (NH3) Udara Ambient”.
            Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ir. Etyn Yunita, M.Si selaku dosen praktikum kimia lingkungan dan Ibu Nita Rosita S.Si selaku asisten dosen praktikum kimia lingkungan yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan percobaan ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelasaian makalah ini dan memberikan motivasi kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa hasil percobaan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Akhir kata, semoga hasil percobaan ini bermanfaat bagi semua pihak.


Jakarta,   Desember 2011
  


Penulis






BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Udara adalah salah satu komponen yang terpenting bagi kehidupan manusia. Tanpa udara kita tidak dapat hidup. Hewan, tumbuh-tumbuhan pun tidak dapat hidup. Akan tetapi karena udara terdapat dalam jumlah yang berlebihan, kita tidak menginsyafi betapa vitalnya udara. Namun udara yang banyak itu sebenarnya bukanlah tidak terbatas. Hal ini barulah kita insyafi apabila terjadi pencemaran udara yang berat. pencemaran udara akan terus meningkat dan meluas dengan makin cepatnya proses industrialisasi dan makin banyaknya kendaraan bermotor.
Biaya yang ditimbulkan oleh pencemaran tidaklah mudah untuk dihitung. biaya itu sebagian akan berupa penyakit, pengobatan, dan mengurangi kemampuan kerja, dan sebagian lagi menjadi kotornya lingkungan. Udara yang dibutuhkan adalah udara yang bersih, minim partikulat materi-materi yang berbahaya namun kaya akan oksigen. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal.
            Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara bebas. Sumber pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dll. Dampak dari pencemaran udara tersebut adalah menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif terhadap kesehatan manusia.
            Udara merupakan media lingkungan yang merupakan kebutuhan dasar manusia perlu mendapatkan perhatian yang serius, Pertumbuhan pembangunan seperti industri, transportasi, dll disamping memberikan dampak positif namun disisi lain akan memberikan dampak negatif dimana salah satunya berupa pencemaran udara dan kebisingan baik yang terjadi didalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor) yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan terjadinya penularan penyakit.
            Disamping kualitas udara ambien, kualitas udara dalam ruangan (indoor air quality) juga merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian karena akan berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Timbulnya kualitas udara dalam ruangan umumnya disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kurangnya ventilasi udara (52%) adanya sumber kontaminasi di dalam ruangan (16%) kontaminasi dari luar ruangan (10%), mikroba (5%), bahan material bangunan (4%) , lain-lain (13%).
Sumber pencemaran udara dapat pula berasal dari aktifitas rumah tangga dari dapur yang berupa asap, Menurut beberapa penelitian pencemaran udara yang bersumber dari dapur telah memberikan kontribusi yang besar terhadap penyakit ISPA.
Udara merujuk kepada campuran gas yang terdapat pada permukaan bumi. Udara bumi yang kering mengandungi 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbon dioksida, dan gas-gas lain. Kandungan elemen senyawa gas dan partikel dalam udara akan berubah-ubah dengan ketinggian dari permukaan tanah. Demikian juga massanya, akan berkurang seiring dengan ketinggian. Semakin dekat dengan lapisan troposfer, maka udara semakin tipis, sehingga melewati batas gravitasi bumi, maka udara akan hampa sama sekali.
Apabila makhluk hidup bernapas, kandungan oksigen berkurang, sementara kandungan karbon dioksida bertambah. Ketika tumbuhan menjalani sistem fotosintesa, oksigen kembali dibebaskan. Di antara gas-gas yang membentuk udara adalah seperti berikut : Helium, Nitrogen, Oksigen, Karbon dioksida. Pengukuran kualitas udara ambien bertujuan untuk mengetahui konsentrasi zat pencemar yang ada di udara. Data hasil pengukuran tersebut sangat diperlukan untuk berbagai kepentingan, diantaranya untuk mengetahui tingkat pencemaran udara di suatu daerah atau untuk menilai keberhasilan program pengendalian pencemaran udara yang sedang dijalankan.
Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang valid (yang representative), maka dari mulai pengambilan contoh udara (sampling) sampai dengan analisis di laboratorium harus menggunakan peralatan, prosedur dan operator (teknisi, laboran, analis dan chemist) yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam pelaksanaan pengukuran kualitas udara ambient dapat dilakukan secara kontinyu menggunakan peralatan automatic yang dapat mengukur zat pencemar secara langsung dan dengan cepat, sehingga fluktuasi konsentrasi zat pencemar di udara ambient dapat dipantau.
Mengingat bahayanya pencemaran udara terhadap kesehatan sebagaimana kasus-kasus tersebut diatas, maka dipandang perlu bagi petugas kesehatan di daerah untuk mengetahui berbagai parameter pencemar seperti : sifat bahan pencemar, sumber dan distribusi, dan dampak yang mungkin terjadi juga cara pengendalian, maka diperlukan suatu pedoman atau acuan dalam rangka meminimalkan terjadi dampak terhadap kesehatan .
Jenis parameter pencemar udara dalam percobaan ini didasarkan pada baku mutu udara ambien menurut Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999, yang meliputi : Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), amoniak (NH3) dalam udara ambient.

I.2. Tujuan Percobaan
            Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu :
·         Dapat melakukan pengambilan sampel (sampling) udara ambient (SO2, NO2, NH3, total partikulat/debu).
·         Dapat melakukan pengambilan data-data pendukung sampling udara seperti suhu, tekanan udara, laju alir udara, waktu/lama sampling, kebisingan, arah, dan kecepatan angin).
·         Dapat menentukan volume sampel udara yang diserap.
·         Dapat menganalisa dan menentukan kadar total partikulat (kadar debu) udara ambient dengan metode gravimetri
·         Dapat menganalisa dan menentukan kadar NO2 udara ambient dengan metode Griess Saltzman.
·         Dapat menganalisa dan menentukan kadar SO2 udara ambient dengan kisaran konsentrasi 0,01 ppm sampai 0,4 ppm udara atau 25 µg/m3 sampai 1000 µg/m3.
·         Dapat menentukan gas amoniak (NH3) di udara ambient dengan menggunakan metode indofenol secara spektrofotometri pada panjang gelombang 640 nm.

I.3 Manfaat Percobaan
            Hasil percobaan yang dilakukan ini akan memberikan informasi kepada dosen dan teman-teman mahasiswa tentang kandungan partikulat, sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2) dan  amoniak (NH3) dalam udara ambient didepan Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Udara
            Udara merujuk kepada campuran gas yang terdapat pada permukaan bumi. Udara bumi yang kering mengandungi 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uapairkarbon dioksida, dan gas-gas lain.
Kandungan elemen senyawa gas dan partikel dalam udara akan berubah-ubah dengan ketinggian dari permukaan tanah. Demikian juga massanya, akan berkurang seiring dengan ketinggian. Semakin dekat dengan lapisan troposfer, maka udara semakin tipis, sehingga melewati batas gravitasi bumi, maka udara akan hampa sama sekali.
Apabila makhluk hidup bernapas, kandungan oksigen berkurang, sementara kandungan karbon dioksida bertambah. Ketika tumbuhan menjalani sistemfotosintesaoksigen kembali dibebaskan.
Di antara gas-gas yang membentuk udara adalah seperti berikut :
§  Helium
§  Nitrogen
§  Oksigen

II.2 Udara Ambient
            Menurut Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Udara ambien adalah udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup, dan unsure lingkungan hidup lainnya. Baku mutu udara ambien adalah ukuran batas atau kadar zat, energi, dan/ atau komponen yang ada atau yang seharusnya ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam udara ambien.
Kualitas udara ambien merupakan tahap awal untuk memahami dampak negatif cemaran udara terhadap lingkungan. Kualitas udara ambien ditentukan oleh :
·         kuantitas emisi cemaran dari sumber cemaran
·         proses transportasi, konversi dan penghilangan cemaran di atmosfer.Kualitas udara ambien akan menentukan dampak negatif cemaran udara terhadap kesehatan masyarakat dan kesejahteraan masyarakat (tumbuhan, hewan, material dan Iain-Iainnya).

Skema Rantai Emisi – Dampak Cemaran Udara

Informasi mengenai efek pencemaran udara terhadap kesehatan berasal dari data pemaparan pada binatang, kajian epidemiologi, dan pada kasus yang terbatas kajian pemaparan pada manusia. Penelitian secara terus menerus dilakukan dengan tujuan:
o   Menetapkan secara lebih baik konsentrasi dimana efek negatif dapat dideteksi,
o   Menentukan korelasi antara respon manusia dan hewan terhadap cemaran
o   Mendapatkan informasi epidemiologi lebih banyak, dan
o   Menjembatani gap informasi dan mengurangi ketidakpast’an baku mutu yang sekarang diberlakukan.

Baku mutu kualitas udara lingkungan/ambien ditetapkan untuk cemaran yaitu: O3 (ozon), CO (karbon monoksida), NOX (nitrogen oksida), SO2 (sulfur oksida), hidrokarbon non-metana, dan partikulat. Baku Mutu Kualitas Udara Nasional Amerika yang telah dikaji oleh National Academics of Science and Environmental Protection Agency (NEPA) menetapkan baku mutu primer dan baku mutu sekunder.






Baku Mutu Kualitas Udara Nasional Amerika

Baku mutu primer ditetapkan untuk melindungi pada batas keamanan yang mencukupi (adequate margin safety) kesehatan masyarakat dimana secara umum ditetapkan untuk melindungi sebagian masyarakat (15-20%) yang rentan terhadap pencemaran udara. Baku mutu sekunder ditetapkan untuk melindungi kesejahteraan masyarakat (material,tumbuhan, hewan) dari setiap efek negatif pencemaran udara yang telah diketahui atau yang dapat diantisipasi. Baku Mutu Kualitas Udara Ambien Indonesia yang ditetapkan dengan mempertimbangkan dan mengacu baku mutu negara lain di antara Baku Mutu Kualitas Udara Ambien USA disajikan pada Tabel berikut.




Baku Mutu Udara Ambien Indonesia

Berdasarkan proses pembentukannnya, zat pencemar di udara ambien dapat dibedakan di zat pencemar primer dan zat pencemar sekunder . Zat pencemar primer dapat didefinisikan sebagai zat pencemar yang terbentuk di sumber emisinya ( SO 2, NOx) , sedangkan zat pencemar sekunder merupakan zat pencemar yang terbentuk di atmosfer, yang merupakan produk dari reaksi kimia beberapa zat pencemar ( seperti senyawa oksidan dan ozon ). Sedangkan berdasarkan fasanya , zat pencemar di udara dibedakan atas zat pencemar berupa aerosol , atau partikulat (debu) dan zat pencemar berupa gas ( SO2, NOx,, Ozon dll).
II.3 Pencemaran Udara
            Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisikkimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.
Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suarapanasradiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokalregional, maupun global
            Pencemar udara dibedakan menjadi dua yaitu, pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. [Karbon monoksida]adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam [smog fotokimia] adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.
Belakangan ini tumbuh keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan pemanasan global (global warming) yg memengaruhi;
Kegiatan manusia
§  Transportasi
§  Industri
§  Pembangkit listrik
§  Pembakaran (perapian, kompor, furnace,[insinerator]dengan berbagai jenis bahan bakar
§  Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti (CFC)
Sumber alami
§  Gunung berapi
§  Rawa-rawa
§  Kebakaran hutan
§  Nitrifikasi dan denitrifikasi biologi
Sumber-sumber lain
§  Transportasi amonia
§  Kebocoran tangki klor
§  Timbulan gas metana dari lahan uruk /tempat pembuangan akhir sampah
§  Uap pelarut organik

II.4 OKSIDA NITROGEN (NOx)
A.    DEFINISI DAN PENGUKURAN KONDISI AWAL:
Oksida nitrogen bersama dengan hidrokarbon merupakan komponen kimia pokok dalam reaksi fotokimia yang mengakibatkan pembentukan oksidan fotokimia (smog).  Berbagai jenis oksida nitrogen dapat terbentuk  dalam atmosfer, termasuk oksida nitrat (NO), nitrogen dioksida (NO2), dan nitrous oksida (N2O).  Istilah oksida nitrogen digunakan untuk menyatakan konsentrasi komposit atmosferik dari semua bentuk oksida nitrogen.  Sumber utama oksida nitrogen dalam atmosfer adalah pembakaran suhu tinggi berbagai macam bahan bakar, dimana kendaraan bermotor menyumbangkan bagian terbesar dari semua emisi oksida nitrogen.  Dampak buruk kesehatan terjadi kalau konsentrasi atmosferik  118 - 156 g/m3, selama 24 jam rata-rata enam bulan, pada saat mana terjadi gangguan bronkhitis akut pada bayi dan anak-anak sekolah. Baku mutu udara ambient untuk oksida nitrogen adalah sbb:
Rataan tahunan = 100 mg/m3 atau 0.05 ppm
Oksida nitrogen dapat diukur  dengan menggunakan teknik sampling gas-absorption dan prosedur kolorimetrik untuk analisisnya.
B.     PENDUGAAN DAMPAK
Sumber utama oksida nitrogen dalam hubungannya dengna proyek pembangunan (sumberdaya air) adalah emisi dari kendaraan bermotor , termasuk otomobil dan peralatan konstruksi.  Untuk mengukur peubah ini, di lingkungan yang ada, tim interdisiplin harus menghimpun informasi tentang konsentrasi oksida nitrogen di lokasi proyek, serta mengikhtisarkan data emisi di sekitar lokasi.  Konsentrasi oksida nitrogen yang ada dibandingkan dengan baku mutu udara yang berlaku.  Pendugaan dampak akan mempertimbangkan kontribusi proyek tehadap emisi oksida nitrogen regional.  Hal seperti ini disebut pendugaan dampak sekala meso.  Faktor emisi oksida nitrogen untuk kendaraan bermotor dan aktivitas pembukaan lahan dapat digunakan sebagai referensi.  Kontribusi proyek terhadap emisi regional dapat dinyatakan sebgaai persentase, dan kurva fungsional di bawah ini dapat digunakan.  Harus juga dipertimbangkan oksida nitrogen yang mungkin dihasilkan dari pertumbuhan sekunder di daerah proyek, termasuk pertambahan penduduk dan perkembangan industri.
Kalau persentase peningkatan emisi oksida nitrogen regional lebih dari 5% , atau kalau konsentrasi atmosferik telah mendekati batas ambang baku mutu udara, maka harus dilakukan perhitungan khusus konsentrasi oksida nitrogen di permukaan tanah.  Hal seperti ini lazim disebut pendugaan dampak sekala mikro.
C.     SIFAT FISIKA DAN KIMIA
Oksida Nitrogen (NOx) adalah kelompok gas nitrogen yang terdapat di atmosfir yang terdiri dari nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2). Walaupun ada bentuk oksida nitrogen lainnya, tetapi kedua gas tersebut yang paling banyak diketahui sebagai bahan pencemar udara. Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau sebaliknya nitrogen dioksida berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam.
Nitrogen monoksida terdapat diudara dalam jumlah lebih besar daripada NO2. Pembentukan NO dan NO2 merupakan reaksi antara nitrogen dan oksigen diudara sehingga membentuk NO, yang bereaksi lebih lanjut dengan lebih banyak oksigen membentuk NO2. Udara terdiri dari 80% Volume nitrogen dan 20% Volume oksigen. Pada suhu kamar, hanya sedikit kecendrungan nitrogen dan oksigen untuk bereaksi satu sama lainnya. Pada suhu yang lebih tinggi (diatas 1210°C) keduanya dapat bereaksi membentuk NO dalam jumlah banyak sehingga mengakibatkan pencemaran udara. Dalam proses pembakaran, suhu yang digunakan biasanya mencapai 1210 – 1.765 °C, oleh karena itu reaksi ini merupakan sumber NO yang penting. Jadi reaksi pembentukan NO merupakan hasil samping dari proses pembakaran.
D.    SUMBER DAN DISTRIBUSI
Dari seluruh jumlah oksigen nitrogen ( NOx ) yang dibebaskan ke udara, jumlah yang terbanyak adalah dalam bentuk NO yang diproduksi oleh aktivitas bakteri. Akan tetapi pencemaran NO dari sumber alami ini tidak merupakan masalah karena tersebar secara merata sehingga jumlah nya menjadi kecil. Yang menjadi masalah adalah pencemaran NO yang diproduksi oleh kegiatan manusia karena jumlahnya akan meningkat pada tempat-tempat tertentu.
Kadar NOx diudara perkotaan biasanya 10–100 kali lebih tinggi dari pada di udara pedesaan. Kadar NOx diudara daerah perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb). Seperti halnya CO, emisi NOx dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama NOx yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NOx buatan manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas, dan bensin.
Kadar NOx di udara dalam suatu kota bervariasi sepanjang hari tergantung dari intensitas sinar mataharia dan aktivitas kendaraan bermotor. Perubahan kadar NOx berlangsung sebagai berikut :
a.       Sebelum matahari terbit, kadar NO dan NO2 tetap stabil dengan kadar sedikit lebih tinggi dari kadar minimum seharihari.
b.      Setelah aktifitas manusia meningkat ( jam 6-8 pagi ) kadar NO meningkat terutama karena meningkatnya aktivitas lalulintas yaitu kendaraan bermotor. Kadar NO tetinggi pada saat ini dapat mencapai 1-2 ppm.
c.       Dengan terbitnya sinar matahari yang memancarkan sinar ultra violet kadar NO2 ( sekunder ) kadar NO2 pada saat ini dapat mencapai 0,5 ppm.
d.      Kadar ozon meningkat dengan menurunnya kadar NO sampai 0,1 ppm.
e.       Jika intensitas sinar matahari menurun pada sore hari ( jam 5-8 malam ) kadar NO meningkat kembali.
f.       Energi matahari tidak mengubah NO menjadi NO2 (melalui reaksi hidrokarbon) tetapi O3 yang terkumpul sepanjanghari akan bereaksi dengan NO. Akibatnya terjadi kenaikan kadar NO2 dan penurunan kadar O3.
g.      Produk akhir dari pencemaran NOx di udara dapat berupa asam nitrat, yang kemudian diendapkan sebagai garamgaramnitrat didalam air hujan atau debu. Merkanisme utama pembentukan asam nitrat dari NO2 di udara masihterus dipelajari Salah satu reaksi dibawah ini diduga juga terjadi diudara tetapi diudara tetapi peranannya mungkinsangat kecil dalam menentukan jumlah asam nitrat di udara.
h.      Kemungkinan lain pembentukan HNO3 didalam udara tercemar adalah adanya reaksi dengan ozon pada kadar NO2maksimum O3 memegang peranan penting dan kemungkinan terjadi tahapan reaksi sebagai berikut :
O3 + NO2 → NO3 + O2
NO3 + NO2 →N2O5
N2O5 + 2HNO3 → 2HNO3

Reaksi tersebut diatas masih terus dibuktikan kebenarannya, tetapi yang penting adalah bahwa proses-prosesdiudara mengakibatkan perubahan NOx menjadi HNO3 yang kemudian bereaksi membentuk partikel-partikel.





E.     DAMPAK TERHADAP KESEHATAN
Oksida nitrogen seperti NO dan NO2 berbahaya bagi manusia. Penelitian menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih beracun daripada NO. Selama ini belum pernah dilaporkan terjadinya keracunan NO yang mengakibatkan kematian. Diudara ambien yang normal, NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang bersifat racun. Penelitian terhadap hewan percobaan yang dipajankan NO dengan dosis yang sangat tinggi, memperlihatkan gejala kelumpuhan sistim syarat dan kekejangan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tikus yang dipajan NO sampai 2500 ppm akan hilang kesadarannya setelah 6-7 menit, tetapi jika kemudian diberi udara segar akan sembuh kembali setelah 4–6 menit. Tetapi jika pemajanan NO pada kadar tersebut berlangsung selama 12 menit, pengaruhnya tidak dapat dihilangkan kembali, dan semua tikus yang diuji akan mati.
NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru ( edema pulmonari ). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang. Pemajanan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.
F.      PENGENDALIAN
F.1. PENCEGAHAN
F.1.1. Sumber Bergerak
a)      Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik.
b)      Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala.
c)      Memasang filter pada knalpot.


F.1.2. Sumber Tidak Bergerak
a)      Mengganti peralatan yang rusak.
b)      Memasang scruber pada cerobong asap.
c)      Memodifikasi pada proses pembakaran.

F.1.3. Manusia
Apabila kadar NO2 dalam udara ambien telah melebihi baku mutu ( 150 mg/Nm3 dengan waktu pengukur 24 jam) maka untuk mencegah dampak kesehatan dilakukan upaya-upaya :
a)      Menggunakan alat pelindung diri, seperti masker gas.
b)      Mengurangi aktifitas di luar rumah.
c)       
F.2. PENANGGULANGAN
a)      Mengatur pertukaran udara di dalam ruang, seperti mengunakan exhaust-fan.
b)      Bila terjadi korban keracunan, maka lakukan :
Ø  Berikan pengobatan atau pernafasaan buatan.
Ø  Kirim segera ke Rumah Sakit atau Puskesmas terdekat.

II.5 PARTIKULAT
A.    DEFINISI DAN PENGUKURAN KONDISI AWAL
Partikulat adalah partikel padatan dan cairan halus yang tersuspensi dalam udara ambient.  Ukuran diameternya berkisar 0.01 mikron hingga 100 mikron. Partikulat dalam atmosfer dapat bersumber dari alamiah dan sumber buatan.  Hembusan angin berdebu alamiah menyediakan konsnetrasi partikulat “background”, sedangkan sumber-sumber buatan termasuk aktivitas konstruksi dan proses-proses industri.  Dampak buruk kesehatan akibat partikulat dalam atmosfer telah diketahui untuk konsentrasi rataan tahunan 80 g/m3. Partikulat dapat mengakibatkan gangguan bronkhitis, gangguan emphysema dan penyakit kardiovaskuler.  Partikulat juga dapat menimbulkan masalah visibilitas yang serius. Bangunan logam dan baja dapat mengalami korosi akibat dari ekspose terhadap partikulat dan kelembaban udara.  Baku mutu udara ambient pemerintah Federal USA untuk partikulat adalah sbb:

Baku mutu protektif primer untuk kesehatan publik:
1.         Rataan geometrik tahunan = 75  µg/m3
2.         Konsentrasi maksimum 24 jam tidak lebih sekali dalam setahun = 260 µg/m3.

Baku mutu protektif sekunder untuk kesejahteraan publik:
Rataan geometrik tahunan = 40  µg/m3
Konsentrasi maks 24 jam tidak lebih sekali dlm setahun = 15 µg/m3.

Total partikulat tersuspensi dapat diukur dengan menggunakan alat sampler high-volume dan analisis gravimetrik material yang tersaring.



B.     PENDUGAAN DAMPAK:

Sumber utama partikulat dalam kaitannya dengan proyek (pembangunan sumberdaya air) adalah emisi dari  pembukaan lahan dan aktivitas konstruksi lainnya.  Untuk mengukur peubah ini dalam kondisi lingkungan yang ada, tim interdisiplin harus menghimpun informasi tentang konsentrasi partikulat di lokasi proyek, serta mengikhtisarkan  data inventory emisi di sekitarnya.  Konsentrasi partikulat yang ada dapat dibandingkan dengan baku mutu udara ambient yang berlaku.  Pendugaan dampak akan mempertimbangkan kontribusi potensial  dari proyek terhadap inventori emisi partikulat secara regional.  Hal seperti ini lazimnya disebut  pendugaan dampak sekala meso.  Faktor emisi partikulat untuk aktivitas pembukaan lahan dan aktivitas konstruksi lainnya dapat digunakan, karena keduanya ada dalam  “Air Pollution Emission Factors” (1973).  Kontribusi proyek terhadap inventory emisi partikulat dapat dinyatakan dalam persentase, dan kurva fungsional berikut ini dapat digunakan.  Harus juga dipertimbangkan partikulat yang mungkin berasal dari pertumbuhan skeunder di lokasi proyek, termasuk pertambahan penduduk dan perkembangan industri.

C.     SIFAT FISIKA DAN KIMIA
Partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM) merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawaorganik dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai denganmaksimal 500 mikron. Partikulat debu tersebut akan berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayanglayangdi udara dan masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Selain dapat berpengaruh negatif terhadapkesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia diudara. Partikel debu SPM pada umumnya mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda, dengan berbagai ukuran danbentuk yang berbada pula, tergantung dari mana sumber emisinya.
Karena Komposisi partikulat debu udara yang rumit, dan pentingnya ukuran partikulat dalam menentukan pajanan, banyak istilah yang digunakan untuk menyatakan partikulat debu di udara. Beberapa istilah digunakan dengan mengacu pada metode pengambilan sampel udara seperti : Suspended Particulate Matter (SPM), Total Suspended Particulate (TSP), balack smake. Istilah lainnya lagi lebih mengacu pada tempat di saluran pernafasan dimana partikulat debu dapat mengedap, seperti inhalable/thoracic particulate yang terutama mengedap disaluran pernafasan bagian bawah, yaitu dibawah pangkal tenggorokan (larynx ). Istilah lainnya yang juga digunakan adalah PM-10 (partikulat debu dengan ukuran diameter aerodinamik <10 mikron), yang mengacu pada unsur fisiologi maupun metode pengambilan sampel.


D.    SUMBER DAN DISTRIBUSI

Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin atau berasal dari muntahan letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon akan murni atau bercampur dengan gas-gas organik seperti halnya penggunaan mesin disel yang tidak terpelihara dengan baik.
Partikulat debu melayang (SPM) juga dihasilkan dari pembakaran batu bara yang tidak sempurna sehingga terbentuk aerosol kompleks dari butir-butiran tar. Dibandingkan dengan pembakaraan batu bara, pembakaran minyak dan gas pada umunya menghasilkan SPM lebih sedikit. Kepadatan kendaraan bermotor dapat menambah asap hitam pada total emisi partikulat debu.
Demikian juga pembakaran sampah domestik dan sampah komersial bisa merupakan sumber SPM yang cukup penting. Berbagai proses industri seperti proses penggilingan dan penyemprotan, dapat menyebabkan abu berterbangan di udara, seperti yang juga dihasilkan oleh emisi kendaraan bermotor.

E.     DAMPAK TERHADAP KESEHATAN

Inhalasi merupakan satu-satunya rute pajanan yang menjadi perhatian dalam hubungannya dengan dampak terhadap kesehatan. Walau demikian ada juga beberapa senjawa lain yang melekat bergabung pada partikulat, seperti timah hitam (Pb dan senyawa beracun lainnya, yang dapat memajan tubuh melalui rute lain.
Pengaruh partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada di udara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada diudara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 10 mikron. Pada umunya ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang dapat langsung masuk kedalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi. Keadaan ini akan lebih bertambah parah apabila terjadi reaksi sinergistik dengan gas SO2 yang terdapat di udara juga.
Selain itu partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata (Visibility) Adanya ceceran logam beracun yang terdapat dalam partikulat debu di udara merupakan bahaya yang terbesar bagi kesehatan. Pada umumnya udara yang tercemar hanya mengandung logam berbahaya sekitar 0,01% sampai 3% dari seluruh partikulat debu di udara Akan tetapi logam tersebut dapat bersifat akumulatif dan kemungkinan dapat terjadi reaksi sinergistik pada jaringan tubuh, Selain itu diketahui pula bahwa logam yang terkandung di udara yang dihirup mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan dosis sama yang besaral dari makanan atau air minum. Oleh karena itu kadar logam di udara yang terikat pada partikulat patut mendapat perhatian.

F.      PENGENDALIAN
F.1. PENCEGAHAN
a.       Dengan melengkapi alat penangkap debu ( Electro Precipitator ).
b.      Dengan melengkapi water sprayer pada cerobong.
c.       Pembersihan ruangan dengan sistim basah.
d.      Pemeliharaan dan perbaikan alat penangkap debu.
e.       Menggunakan masker.

F.2. PENANGGULANGAN
a.       Memperbaiki alat yang rusak

II.6 SULFUR DIOKSIDA (SO2)
A.    SIFAT FISIKA DAN KIMIA
Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen sulfur bentuk gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO2) dan Sulfur trioksida (SO3), dan keduanya disebut sulfur oksida (SOx). Sulfur dioksida mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak mudah terbakar diudara, sedangkan sulfur trioksida merupakan komponen yang tidak reaktif.
Pembakaran bahan-bahan yang mengandung Sulfur akan menghasilkan kedua bentuk sulfur oksida, tetapi jumlah relative masing-masing tidak dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang tersedia. Di udara SO2 selalu terbentuk dalam jumlah besar. Jumlah SO3 yang terbentuk bervariasi dari 1 sampai 10% dari total SOx.
Mekanisme pembentukan SOx dapat dituliskan dalam dua tahap reaksi sebagai berikut :
S + O2 ↔ SO2
2 SO2 + O2 ↔ 2 SO3
SO3 di udara dalam bentuk gas hanya mungkin ada jika konsentrasi uap air sangat rendah. Jika konsentrasi uap air sangat rendah. Jika uap air terdapat dalam jumlah cukup, SO3 dan uap air akan segera bergabung membentuk droplet asam sulfat ( H2SO4 ) dengan reaksi sebagai berikut :
SO SO2 + H2O2 → H2SO4
Komponen yang normal terdapat di udara bukan SO3 melainkan H2SO4 Tetapi jumlah H2SO4 di atmosfir lebih banyak dari pada yang dihasilkan dari emisi SO3 hal ini menunjukkan bahwa produksi H2SO4 juga berasal dari mekanisme lainnya.
Setelah berada diatmosfir sebagai SO2 akan diubah menjadi SO3 (Kemudian menjadi H2SO4) oleh proses-proses fotolitik dan katalitik Jumlah SO2 yang teroksidasi menjadi SO3 dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk jumlah air yang tersedia, intensitas, waktu dan distribusi spektrum sinar matahari, Jumlah bahan katalik, bahan sorptif dan alkalin yang tersedia. Pada malam hari atau kondisi lembab atau selama hujan SO2 di udara diaborpsi oleh droplet air alkalin dan bereaksi pada kecepatan tertentu untuk membentuk sulfat di dalam droplet.
B.     SUMBER DAN DISTRIBUSI
Sepertiga dari jumlah sulfur yang terdapat di atmosfir merupakan hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga bagian lagi berasal dari sumber-sumber alam seperti vulkano dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida. Masalah yang ditimbulkan oleh bahan pencemar yang dibuat oleh manusia adalah ditimbulkan oleh bahan pencemar yang dibuat oleh manusia adalah dalam hal distribusinya yang tidak merata sehingga terkonsentrasi pada daerah tertentu. Sedangkan pencemaran yang berasal dari sumber alam biasanya lebih tersebar merata. Tetapi pembakaran bahan bakar pada sumbernya merupakan sumber pencemaran Sox, misalnya pembakaran arang, minyak bakar gas, kayu dan sebagainya Sumber SOx yang kedua adalah dari proses-proses industri seperti pemurnian petroleum, industri asam sulfat, industri peleburan baja dan sebagainya.
Pabrik peleburan baja merupakan industri terbesar yang menghasilkan Sox. Hal ini disebabkan adanya elemen penting alami dalam bentuk garam sulfida misalnya tembaga ( CUFeS2 dan CU2S ), zink (ZnS), Merkuri (HgS) dan Timbal (PbS). Kerbanyakan senyawa logam sulfida dipekatkan dan dipanggang di udara untuk mengubah sulfida menjadi oksida yang mudah tereduksi. Selain itu sulfur merupakan kontaminan yang tidak dikehandaki didalam logam dan biasanya lebih mudah untuk menghasilkan sulfur dari logam kasar dari pada menghasilkannya dari produk logam akhirnya. Oleh karena itu SO2 secara rutin diproduksi sebagai produk samping dalam industri logam dan sebagian akan terdapat di udara.
C.     DAMPAK TERHADAP KESEHATAN
Pencemaran SOx menimbulkan dampak terhadap manusia dan hewan, kerusakan pada tanaman terjadi pada kadasr sebesar 0,5 ppm. Pengaruh utama polutan Sox terhadap manusia adalah iritasi sistim pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit khronis pada sistem pernafasan kadiovaskular.
Individu dengan gejala penyakit tersebut sangat sensitif terhadap kontak dengan SO2, meskipun dengan kadar yang relative rendah. Kadar SO2 yang berpengaruh terhadap gangguan kesehatan adalah sebagai berikut :





D.    PENGENDALIAN
D.1 PENCEGAHAN
D.1.1 Sumber Bergerak
a.       Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap berfungsi baik
b.      Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala
c.       Memasang filter pada knalpot

D.1.2 Sumber Tidak Bergerak
a.       Memasang scruber pada cerobong asap.
b.      Merawat mesin industri agar tetap baik dan lakukan pengujian secara berkala.
c.       Menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar Sulfur rendah.

D.1.3 Bahan Baku
a.       Pengelolaan bahan baku SO2 sesuai dengan prosedur pengamanan.

D.1.4 Manusia
Apabila kadar SO2 dalam udara ambien telah melebihi Baku Mutu (365mg/Nm3 udara dengan rata-rata waktu pengukuran24 jam) maka untuk mencegah dampak kesehatan, dilakukan upaya-upaya :
a.       Menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti masker gas.
b.      Mengurangi aktifitas diluar rumah.

D.2. PENANGGULANGAN
1.      Memperbaiki alat yang rusak
2.      Penggantian saringan/filter
3.      Bila terjadi/jatuh korban, maka lakukan :
·         Pindahkan korban ke tempat aman/udara bersih.
·         Berikan pengobatan atau pernafasan buatan.
·         Kirim segera ke rumah sakit atau Puskesmas terdekat.
II.7 AMONIAK (NH3)
A.    SIFAT FISIKA DAN KIMIA

Amoniak terdapat dalam atmosfer bahkan dalam kondisi tidak tercemar. Berbagai sumber, antara lain : mikroorganisme, perombakkan limbah binatang, pengolahan limbah, industry amoniak, dan dari system pendingin dengan bahan amoniak. Konsentrasi yang tinggi dari amoniak dalam atmosfer secara umum menunjukkan adanya pelepasan secara eksidental dari gas tersebut.
           Amoniak dihilangkan dari atmosfer dengan affinitasnya terhadap air dan aksinya sebagai basa. Ini merupakan sebuah kunci dalam pembentukan dan netralisasi dari nitrat dan aerosol sulfat dalam atmosfer yang tercemar. Amoniak bereaksi dengan aerosol asam ini untuk membentuk garam ammonium.
NH3 + HNO3 → NH4NO3
NH3 + H2SO4 → NH4HSO4

II. 8 UV-VIS SPEKTROFOTOMETER
            Spektrofotometer digunakan untuk mengukur jumlah cahaya yang diabsorbsi atau ditransmisikan oleh molekul-molekul di dalam larutan. Ketika panjang gelombang cahaya ditrasnmisikan melalui larutan, sebagian energy cahaya tersebut akan diserap (diabsorbsi). Besarnya kemampuan molekul-molekul zat terlarut untuk mengabsorbsi cahaya pada panjang gelombang tertentu dikenal dengan istilah absorbansi (A), yang setara dengan nilai konsentrasi larutan konsentrasi larutan tersebut dan panjang berkas cahaya yang dilalui (biasanya 1 cm dalam spektrofotometer) ke suatu point dimana presentase jumlah cahaya yang ditrasnmisikan atau diabsorbsi diukur dengan phototube.
Sebuah spektrofotometer memiliki lima bagian penting, diantaranya sumber cahaya, monokromator, sel penyerap/wadah pada sample,photodetektor, dan analyzer. Untuk UV umumnya digunakan lampu deuterium (D2O), Untuk visible digunakan lampu tungsten xenon (Auc).
Suatu spectrometer UV-Vis biasanya bekerja pada daerah panjang gelombang sekitar 200nm (pada ultar-violet dekat) sampai sekitar 800nm (sinar tampak). Ketika sinar melewati suatu senyawa, energy dari sinar tersebut digunakan untuk mendorong perpindahan electron dari orbital ikatan atau orbital non-ikatan ke salah satu orbital anti- ikatan yang kosong.
II.9 METODE-METODE
II.9.1 Metode Griess Saltzman dalam Penentuan Partikulat & NO2 Udara ambient
            Penetapan kadar NO2 melingkupi : cara pengambilan sampel uji gas NO2 dengan menggunakan larutan penyerap, cara perhitungan volume sampel uji yang diserap, dan cara penentuan gas NO2 di udara ambient menggunakan metode Griess Saltzman. Gas nitrogen dioksida diserap dalam larutan Griess Saltzman sehingga membentuk suatu senyawa azo dye berwarna merah muda yang stabil setelah 15 menit. Konsentrasi ditentukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang 550 nm.

II.9.2 Metode Pararosanilin dalam Penetapan SO2 Udara Ambient
            Gas sulfur dioksida ( SO2) diserap dalam larutan penyerap tetrakloromerkurat membentuk senyawa kompleks diklorosulfonato merkurat dengan menambahkan larutan pa
rarosanilin dan formaldehida kedalam senyawa diklorosulfonato merkurat maka terbentuk senyawa pararosanilin metal sulfonat yang berwarna ungu. Konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang 550 nm.

II.9.3 Metode Indofenol dalam Penetapan Kadar NH3 Udara Ambient
Amoniak dari udara ambien yang telah diserap oleh larutan penyerap asam sulfat akan membentuk ammonium sulfat kemudian direaksikan dengan phenol dan natrium hipoklorit dalam suasana basa membentuk senyawa komplek indofenol yang berwarna biru. Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 640 nm.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.1 sampling Udara Ambient
A.  Lokasi dan Waktu Percobaan
  Lokasi           : Depan Halte UIN Syarif Hidaytllah Jakarta dan
 Depan Pusat Lab. Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
              Tanggal         : Kamis, 9 November 2011
  Waktu           : 13.30 WIB dan 14.30 WIB

B.     Alat dan Bahan :
 Alat:

1.      Midget impinger (tabung penyerap)
2.      Low volume air sampler (LVAS)
3.      Pompa penghisap udara (Vaccum Pump)
4.      Flowmeter
5.      Thermometer
6.      Hygrometer
7.      Sound level meter
8.      Anemometer
9.      Stopwatch
10.  Hand tally counter
11.  Desikator
12.  Pinset.


            Bahan :

1.      Absorber SO2,
2.      Absorber NH3,
3.      Absorber NO2,
4.      Aquades,
5.      Filter hidrofobik pori 0.5 µm diameter 110cm,
6.      Botol /wadah sample + penutupnya,
7.      Plastik polietilen.


C.Prosedur Kerja
a.            Persiapan
1.      Pembuatan Larutan Penyerap (Absorber) SO2
Larutan penyerap tetrakloromerkurat (TCM) 0,04 M
·         Larutkan 10,86 gram merkuri (II) klorida (HgCl2) dengan 800 ml air suling ke dalam gelas piala 1000 ml.
·         Tambahkan berturut-turut 5,96 gram kalium klorida (KCl) dan 0,066 gram EDTA (HOCOCH2)2N(CH2)2N(CH2COONa)2.2H2O lalu aduk sampai homogeny.
·         Pindahkan ke dalam labu ukur, encerkan dengan air suling sampai batas tera.
Catatan : Pembuatan larutan penyerap ini stabil sampai 6 bulan jika tidak terbentuk endapan.
2.      Pembuatan Larutan Penyerap (Absorber) NO2
Pembuatan larutan induk N-1-naftil-etilen-diamin-dihidroklorida (NEDA) 0,1%
·         Larutkan 0,1 g NEDA dalam labu ukur 100 ml, dengan air suling sampai batas tera.
Catatan : larutan disimpan dalam lemari pendingin dan stabil selama 1 bulan.
            Larutan penyerap Griess Saltzman
·         Larutkan 2,5 gram asam sulfanilat anhidrat (H2NC6H4SO3H) atau 2,76 gram asam sulfanilat monohidrat dalam labu ukur 500 ml dengan 300 ml air suling dan 70 ml asam asetat glacial kemudian dikocok. Untuk mempercepat pelarutan dapat dilakukan pemanasan, setelah dingin ke dalam larutan ditambahkan 10 ml larutan N-1-naftil-etilen-diamin-dihidroklorida dan 5 ml aseton, tepatkan dengan air suling hingga batas tera.
Catatan: pembuatan larutan penyerap ini tidak boleh terlalu lama kontak dengan udara. Masukkan larutan penyerap tersebut ke dalam botol berwarna gelap dan simpan di lemari pendingin. Larutan stabil dalam beberapa bulan (2 bulan).

3.      Pembuatan Larutan Penyerap (Absorber) NH3
Masukkan 3 ml H2SO4 97 % ke dalam labu ukur 1000 ml yang telah berisi air suling kurang lebih 200 ml. lalu tepatkan sampai batas tera
4.      Filter yang diperlukan disimpan di dalam desikator selama 24 jam agar mendapatkan kondisi stabil.
5.      Filter kosong pada 1.a ditimbang sampai diperoleh berat konstan, minimal tiga kali penimbangan sehingga diketahui berat filter sebelum pengambilan sampel, catat berat filter blanko (B1) dan filter sampel (W1). Masing-masing filter tersebut ditaruh dalam plastic PE setelah diberi kode sebelum dibawa ke lapangan.
6.      Pompa penghisap udara dikalibrasi dengan kecepatan laju aliran udara 1 L/menit dengan menggunakan flowmeter. (flowmeter harus dikalibrasi oleh laboratorium pengkalibrasi).
7.      Masing-masing absorber ditempatkan pada botol sample sebanyak 10 ml dan diberi kode.

b.      Pengambilan Sampel
1.      Bawa seluruh peralatan dan bahan ke lokasi sampling yang sudah ditentukan.
2.      Hubungkan midget impinge dan LVAS ke pompa penghisap udara dengan menggunakan selang silicon dan Teflon. Pasang flowmeter pada selang. Pastikan tidak ada kebocoran pada setiap sambungan selang baik yang berhubungan dengan LVAS dan midget impinge maupun ke pompa penghisap udara.
3.      LVAS diletakkan pada titik pengukuran dengan menggunakan tripod kira-kira setinggi zona pernafasan manusia.
4.      Bila tabung midget impinge dengan aquades lalu masukkan larutan absorber (SO2, NO2, NH3) masing-masing 10 ml ke tabung midget impinge sesuai dengan gas yang akan diuji.
5.      Filter sampel dimasukkan ke dalam LVAS holder dengan menggunakan pinset dan tutup bagian atas holder.
6.      Pompa penghisap udara dihidupkan (power On) dan lakukan pengambilan sampel dengan kecepatan laju aliran udara (flow rate 1 L/menit)
7.      Atur time selama 1 jam. Lama pengambilan sampel dapat dilakukan selama beberapa menit hingga satu jam (tergantung pada kebutuhan, tujuan, dan kondisi di lokasi pengukuran).
8.      Lakukan pembacaan temperature (t awal) dan tekanan udara (p awal), catat pada worksheet (form 1).
9.      Perhatikan dan catat kondisi sekitar lokasi sampling (kondisi cuaca, sumber-sumber, emisi,dll). Apabila lokasi sampling di pinggir jalan, hitung jumlah kendaraan bermotor yang lewat selama sampling dengan bantuan hand tally counter. Catat data tersebut di worksheet (form 2).

III. 2 Penentuan Partikulat dan NO2 Udara Ambient dengan Metode Griess Saltzman
A.    Lokasi dan Waktu Percobaan
Lokasi             : Depan Halte UIN Syarif Hidaytllah Jakarta dan
  Depan Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tanggal           : Kamis, 23 November 2011
Waktu             : 13.30 WIB dan 14.30 WIB

B.     Alat Dan Bahan
Alat
1. Timbangan Analitik
2.Pinset
3.Desikator
4.Spektrofotometri UV-Vis dan Kuvet
5.Pipet
6.Labu ukur 100mL
 Bahan
1.      Larutan Induk Nitrit (NO2-)
Dilarutkan 2,460 gram NaNO2 dengan air suling dalam labu ukur 1000 mL dan tepatkan sampai batas tera. Simpan dalam lemari pendingin dan botol gelap. Larutan ini stabil selama 1 tahun.
2.      Larutan Standar Nitrit
10 mL dipipet dari larutan induk nitrit ke dalam labu ukur 100 mL tambahkan air suling sampai batas tera. Larutan ini digunakan dalam keadaan fresh.

C.    Prosedur Kerja
1.      Penentuan Partikulat
a.    Ditimbang filter sampel dan filter blanko sebagai pembanding menggunakan timbangan analitik yang  sama sehingga diperoleh berat filter blanko (B2) dan filter sampel (W2). Catat hasil penimbangan tersebut.

b.    Dihitung volume sampel uji udara yang diambil (V).
Sampel uji udara yang diambil dikoreksi pada kondisi normal (250C, 760mmHg) dengan menggunakan rumus:
                      
                                  
Keterangan:
V         =  adalah volume udara yang dihisap (L)
F          =  adalah laju alir awal (L/menit)
F2        =  adalah laju alir akhir (L/menit)
t           =  adalah durasi pengambilan sampel uji (menit)
Pa        =  adalah tekanan barometer rata-rata selama pengambilan sampel (mmHg)
Ta        =  adalah temperature rata-rata selama pengambilan sampel uji (K)
298      =  adalah temperatur pada kondisi normal 250C (K)
760      =  adalah tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)

c.    Dihitung kadar debu total di udara dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
C (mg/L) =
Atau

C (mg/m3) =  x 103
Keterangan:
C         =  kadar debu total
B1       =  berat filter blanko sebelum pengambilan sampel
B2       =  berat filter blanko setelah pengambilan sampel
W1      =  berat filter sampel uji sebelum pengambilan sampel
W2      =  berat filter sampel uji setelah pengambilan sampel
V         =  volume udara pada waktu pengambilan sampel (L)



2. Penentuan NO2 Udara Ambient
a. Pembuatan kurva kalibrasi
·         Dibuat deret standar dengan memipet (misalkan 0; 0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 0,8 dan 1 mL) dari larutan standar nitrit ke dalam labu ukur 25mL, diencerkan dengan larutan penyerap sampai batas tera.
·         Dikocok dan didiamkan selama 15 menit sampai proses pembentukan warna sempurna.
·         Diukur pada panjang gelombang 550nm.
·         Dibuat kurva kalibrasi dari hasil absorban yang terukur.
b. Pengukuran sampel
·         Setiap pengambilan sampel terbentuk warna merah violet.
·         Dimasukkan larutan sampel ke dalam kuvet tertutup, diukur serapan pada panjang gelombang 550nm.
·         Setiap pengukuran harus dikoreksi terhadap blanko.
·         Pada pembacaan kuantitatif untuk warna terlalu pekat, maka dapat dilakukan pengenceran dengan menggunakan larutan penyerap. Serapan yang diukur dikalikan dengan faktor pengenceran.
c. Perhitungan
·         Perhitungan konsentrasi larutan standar nitrit:
NaNO2 (mg/mL)
Keterangan :
a          =  berat NaNO2
b          =  volume larutan standar nitrit yang diambil untuk kurva kalibrasi

·         Volume sampel udara yang diambil
Volume sampel uji udara yang diambil dikoreksi pada kondisi normal (250C, 760 mmHg) dengan menggunakan rumus:
                                  



Keterangan:
V         =  adalah volume udara yang dihisap (L)
F1        =  adalah laju alir awal (L/menit)
F2        =  adalah laju alir akhir (L/menit)
t           =  adalah durasi pengambilan sampel uji (menit)
Pa        =  adalah tekanan barometer rata-rata selama pengambilan sampel uji (mmHg)
Ta        =  adalah temperature rata-rata selama pengambilan sampel uji (K)
29        =  adalah temperatur pada kondisi normal 250C (K)
760      =  adalah tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)

·         Konsentasi NO2 di udara ambient
Konsentrasi NO2 dalam sampel uji untuk pengambilan sampel uji selama 1 jam dapat dihitung dengan rumus:
C =
Keterangan:
C         =  adalah konsentrasi NO2 di udara (mg/Nm3)
a          =  adalah jumlah NO2 dari sampel uji dengan melihat kurva kalibrasi (mg)
V         =  adalah volume udara pada kondisi normal (L)
1000    =  adalah konversi liter (L) ke m3

III.3 Penetapan SO2 dalam Udara Dengan Metode Pararosanilin
A.    Lokasi dan Waktu Percobaan
Lokasi             : Depan Halte UIN Syarif Hidaytllah Jakarta dan
  Depan Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tanggal           : Kamis, 23 November 2011
Waktu             : 14.30 WIB

B.     Alat Dan Bahan
Alat
1.      UV-VIS Spektrofotometer dan kuvet silica
2.      Labu Erlenmeyer 100 dan 250 ml
3.      Labu ukur 50 ml
4.      Pipet mikro 1000 µL
Bahan
1.      Larutan induk natrium metabisulfit (Na2S2O3)
Larutkan 0,03 gram Na2S2O3dengan air suling dalam labu ukur 50 ml sampai batas tera,homogenkan. Air suling yang digunakan sudah didihkan .
Catatan : 0,03 gram Na­2S2O3 dapat diganti dengan 0,04 gram Na2SO3
2.      Larutan standar natrium metabisulfit
Masukkan 2 ml larutan induk sulfit ke dalam labu ukur 100 ml, encerkan sampai batas tera dengan larutan penyerap lalu homogenkan. Larutan ini stabil selama 1 bulan jika disimpan dalam suhu kamar.
3.      Larutan Pararosanilin hidroklorida ( C19H17N3.HCl) 0,2%
Sebanyak 0,2 gram Pararosanilin dalam 6 ml HCl pekat dan ditepatkan 100 ml dengan air suling. Simpan dan diamkan selama 1-2 hari kemudian disaring. Sebanyak 4 ml filtrate ditambahkan 6 ml HCl pekat dan tepatkan hingga 100 ml dengan air suling.
Catatan : simpan dalam botol gelap dan stabil selama 9 bulan.
4.      Larutan indicator kanji
0,4 gr kanji dan 0,002g HgI2 dilarutkan dengan air mendidih sampai volume 250 ml lalu didinginkan dan dipindahkan ke dalam botol pereaksi.
5.      Larutan Formaldehide
Sebanyak 0,135 ml formaldehid 37% diencerkan menjadi 25ml dengan air suling.
Catatan : Larutan ini disiapkan pada saat akan digunakan
6.      Larutan asam sulfanilic 0,6%
Sebanyak 0,6 gram dalam 100 ml air suling.

III.3 Prosedur Kerja
1.      Standarisasi Larutan Stok MBS
·         Pipet 10 ml larutan stok MBS ke dalam Erlenmeyer 100
·         Tambahkan 10 ml air suling dan 1 ml indicator kanji
·         Titrasi dengan larutan standar iodine 0,025N hingga timbul warna biru.
·         Hitung nilai N larutan stok MBS
·         Konsentrasi larutan stok MBS setara dengan (32 x N MBS x1000) µ SO2/ml
2.      Pembuatan Kurva Kalibrasi
·         Alat spektrofotometer dioptimalkan sesuai petunjuk penggunaan alat
·         Maukkan larutan standar Na2S2O3  pada langkah 3 masing-masing 0,0 ; 1,0; 2,0; 3,0; dan 4,0 ml ke dalam labu ukur 25 ml dengan pipet volum atau biuret mikro.
·         Tambahkan larutan penyerap 10 ml
·         Kemudian ditambahkan 1ml larutan asam sulfanilic 0,6% tunggu samapai 10 menit.
·         Setelah itu tambahkan 2 ml larutan formaldehida 0,2% dan larutan pararosanilin sebanyak 2 ml.
·         Tepatkan dengan air suling sampai 25 ml, lalu homogenkan dan tunggu sampai 30-60 menit.
·         Untuk blanko, 20 ml larutan TCM dalam labu ukur 25 ml ditambahkan dengan 1 ml larutan asam sulfanilic 0,6% tunggu sampai 10 menit. Setelah itu tambahkan 2 ml larutan formaldehida 0,2% dan laruutan pararosanilin sebanyak 2 ml.
·         Ukur serapan masing-masing larutan standar dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 550 nm.
·         Buat kurva kalibrasi antara serapan dengan jumlah SO2 (µg)
3.      Pengukuran sampel
·         Pindahkan sampel ke dalam labu ukur 25 ml
·         Tambahkan masing-masing 1 ml larutan asam sulfanilic 0,6%, tunggu sampai 10 menit.
·         Tambahkan 2 ml larutan formaldehida 0,2%  dan larutan pararosanilin sebanyak 2 ml, lalu tepatkan hingga batas tera dengan larutan TCM.
·         Sampel diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 550 nm.
4.      Perhitungan
·         Volume sampel udara yang diambil
Volume sampel uji udara yang diambil di koreksi pada kondisi normal ( 250C, 760 mmHg) dengan menggunakan rumus :

 X t X
Keterangan :
V         =  adalah volum udara yang dihisap (L)
F1        =  adalah laju alir awal (L/menit)
F2        =  adalah laju alir akhir (L/menit)
t           =  adalah durasi pengambilan sampel uji ( menit )
Pa        =  adalah tekanan barometer rata-rata selama pengambilan sampel uji (mmHg)
Ta        =  adalah temperature rata-rata selama pengambilan sampel uji (K)
298      =  adalah temperature pada kondisi normal 250C (K)
760      =  adalah tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)

·         Konsentrasi Sulfur Dioksida (SO2) di udara ambient
Konsentrasi SO2 dalam sampel uji untuk pengambilan sampel uji selama 1 jam dapat dihitung dengan rumus :
C =
Keterangan :
C         = adalah konsentrasi SO2­ di udara (µg/Nm3)
A         = adalah jumlah SO2 dari sampel uji dengan melihat kurva kalibrasi (µg)
V         = adalah volume udara pada kondisi normal (L)
         = adalah factor pengenceran
   = adalah konversi liter (L) ke m3

III.4 Penetapan Kadar NH3 dalam Udara dengan Metode Indofenol
A.          Lokasi dan Waktu Percobaan
  Lokasi           : Pusat Laboratorium Terpadu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
              Tanggal         : Kamis, 23 November 2011
  Waktu           : 14.30 WIB

B.            Alat dan Bahan :
ALat
1.      UV-Vis Spektrofotometer dan kuvet silica
2.      Labu Erlenmeyer 100 dan 250 ml
3.      Labu ukur 50 ml
4.      Pipet mikro 1000 µL

Bahan :
1.      Larutan stok amoniak 1000 µg
Larutan 3,18 gram NH4Cl ( yang telah dikeringkan pada suhu 105 0C selama 1 jam) dengan air suling ke dalam labu ukur 1000 mL kemudian diencerkan sampai batas tera, lalu homogenkan.
2.      Pereaksi A
Timbang 1 gram phenol dan 0,005 gram natrium nitroprusid NaFe(CN)5NO.2H2O, lalu larutkan dengan air suling dalam labu ukur 100 ml sampai batas tera.
3.      Pereaksi B
Timbang 1,5 NaOH dan pipet 2 ml NaOCl, lalu larutkan dengan air suling dalam labu ukur 100 ml sampai batas tera.
C.       Prosedur Kerja:
1.      Pembuatan kurva kalibrasi
1)      Buat deret standar dengan konsentrasi 0, 2, 4, 8, 10 µg/ml dalam labu ukur 25 ml.
2)      Pipet sebanyak 4 ml dari setiap deret standar dalam test tube. Simpan dalam water bath selama 1 jam dengan suhu 30 0C.
3)      Tambahkan masing-masing 2 ml pereaksi A dan 2 ml pereaksi B.
4)      Homogenkan sampai terbentuk warna biru dan ukur pada panjang gelombang 640 nm.
5)      Buat kurva kalibrasi dari hasil absorban yang terukur.
2.      Pengukuran sampel
1)      Pipet 4 ml sampel ke dalam test tube. Simpan dalam water bath selama 1 jam dengan suhu 30 0C.
2)      Tambahkan masing-masing 2 ml pereaksi A dan 2 ml pereaksi B
3)      Homogenkan sampai terbentuk warna biru dan ukur pada panjang gelombang 640 nm.


3.      Perhitungan
·         Volume sampel udara yang diambil dikoreksi pada kondisi normal (25 0C, 760 mmHg) dengan  menggunakan rumus :
Keterangan :
V        = Volume udara yang dihisap (L)
F1      = laju alir awal (L/menit)
F2      = laju alir akhir (L/menit)
t        = durasi pengambilan sampel uji (menit)
Pa     = tekanan barometer rata-rata selama pengambilan sampel uji (mmHg)
Ta     = temperature rata-rata selama pengambilan sampel uji (K)
298   = temperature pada kondisi normal 25 0C (K)
760   = tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)
·         Konsentrasi amoniak (NH3) di udara ambient
Konsentrasi amoniak (NH3) dalam sampel uji untuk pengambilan sampel uji selama 1 jam dapat di hitung dengan rumus :
Keterangan:
C       = konsentrasi NH3 di udara (µg/Nm3)
a       = jumlah NH3 dari sampel uji dengan melihat kurva kalibrasi (µg)
V       = volume udara pada kondisi normal (L)
1000 = konversi liter (L) ke m3.








BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 HASIL
NO.
Parameter yang diuji
Konsentrasi yang terkandung


PLT UIN
Halte UIN
1
Partikulat Debu
< 15 mg/m3
< 15 mg/m3
2
NO2
< 25 µg/Nm3
< 25 µg/Nm3
3
SO2
< 25 µg/Nm3
< 25 µg/Nm3
4
NH3
< 20 µg/Nm3
< 20 µg/Nm3

IV.2 PEMBAHASAN
            Percobaan kali ini yaitu menentukan partikulat debu, NO2, SO2, dan NH3 pada udara ambient. Sampling udara ini dilakukan di dua tempat yaitu didepan halte UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan didepan PLT UIN Syarif HIdayatullah Jakarta masing-masing selama 1 jam. Untuk menentukan konsentrasi parameter tersebut digunakan beberapa metode dalam pengukuran konsentrasi dari parameter yang akan di uji tersebut. Dan untuk mengetahui konsentrasi dari parameter tersebut dibutuhkan data-data penunjang seperti volume absorber, laju alir udara, temperatur pada saat awal dan akhir pengambilan sampel udara, tekanan udata pada saat awal dan akhir pengambilan sampel udara, waktu sampling. Data penunjang tersebut digunakan untuk menentukan volume udara yang diserap selama sampling dan digunakan untuk menghitung konsentrasi dari masing-masing parameter yang akan diuji.
Data  pendukung sampling seperti suhu yang didapatkan dalam percobaan ini pada sampel udara ambient di depan halte UIN Jakarta sebesar 29oC pada keadaan awal dan menjadi 28oC pada keadaan akhirnya. Suhu yang diambil selama pengambilan sampel didepan PLT UIN Jakarta pada keadaan awal dan akhir yakni sama sebesar 28oC. Tekanan Udara pada keadaan sampling di depan Halte sebesar 737 mmHg pada keadaan awal dan keadaan akhir sampel, sedangkan pada sampling yang dilakukan didepan PLT sebesar 737 mmHg pada keadaan awal dan menjadi 738 mmHg pada akhirnya. Dan nilai kelembaban udara pada keadaan sampling didepan Halte UIN adalah sebesar 52 kg/m3 pada keadaan awal dan menjadi 53 kg/m3 pada keadaan akhirnya, dan kelembaban udara pada keadaan sampling di depan PLT UIN Jakarta pada keadaan awal dan akhir yaitu 56 kg/m3.
Selain itu dibutuhkan data pendukung lain seperti data kebisingan dan kecepatan angina. Nilai kecepatan angin yang didapatkan pada sampling di depan halte UIN Jakarta yakni sebesar 0.435 m/s dan kecepatan angin pada sampling di depan PLT sebesar 0.133 m/s. dan nilai kebisingan yang diambil dari 120 data sampling di depan halte UIN Jakarta memiliki rata-rata sebesar 88.519 dB dan di depan PLT UIN Jakarta memiliki rata-rata sebesar 75.310 dB.
            Dalam penentuan kadar partikulat debu digunakan metode gravimetri, dalam percobaan ini ditentukan kadar debu total udara, sebelum ditentukan kadar debu total ditentukan terlebih dahulu volume udara yang diserap dari sampling udara tersebut menurut hasil perhitungan (perhitungan terlampir) dari data yang diperoleh dari pengambilan sampling udara di dua tempat yang berbeda didapati volume udara yang diserap di depan halte UIN Jakarta yaitu 862,6316 L dan volume udara yang diserap di depan PLT UIN Jakarta yaitu 864,6507 L, data volume udara ini juga digunakan untuk penentuan kadar NO2, SO2, dan NH. Untuk  konsentrasi kadar debu total udara di depan halte UIN Jakarta yaitu sebesar 5,80 x 10-3 mg/m3 dan kadar debu total uadara di depan PLT UIN Jakarta yaitu sebesar 2,31 x 10-3 mg/m3. Hasil analisa tersebut jika dibandingkan dengan nilai ambang batas partikulat debu diudara masih dibawah nilai ambang batas. Nilai ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu 15 mg/m3.
Secara alamiah partikulat debu dapat dihasilkan dari debu tanah kering yang terbawa oleh angin atau berasal dari muntahan letusan gunung berapi. Pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung senyawa karbon akan murni atau bercampur dengan gas-gas organik seperti halnya penggunaan mesin disel yang tidak terpelihara dengan baik.
Partikulat debu melayang (SPM) juga dihasilkan dari pembakaran batu bara yang tidak sempurna sehingga terbentuk aerosol kompleks dari butir-butiran tar. Dibandingkan dengan pembakaraan batu bara, pembakaran minyak dan gas pada umunya menghasilkan SPM lebih sedikit. Kepadatan kendaraan bermotor dapat menambah asap hitam pada total emisi partikulat debu.
Demikian juga pembakaran sampah domestik dan sampah komersial bisa merupakan sumber SPM yang cukup penting. Berbagai proses industri seperti proses penggilingan dan penyemprotan, dapat menyebabkan abu berterbangan di udara, seperti yang juga dihasilkan oleh emisi kendaraan bermotor.
Pengaruh partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada di udara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu bentuk padat maupun cair yang berada diudara sangat tergantung kepada ukurannya. Ukuran partikulat debu yang membahayakan kesehatan umumnya berkisar antara 0,1 mikron sampai dengan 10 mikron. Selain itu partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangi daya tembus pandang mata (Visibility) Adanya ceceran logam beracun yang terdapat dalam partikulat debu di udara merupakan bahaya yang terbesar bagi kesehatan.
Dalam penentuan NO2 udara ambient digunakan metode Griess Saltzman, dalam percobaan ini ditentukan konsentrasi NO2 diudara. Dari data yang diperoleh praktikan dan setelah dilakukan perhitungan (data dan perhitungan terlampir) diperoleh konsentrasi NO2 di depan halte UIN Jakarta yaitu 0,03 µg/Nm3, dan konsentrasi NO2 di depan PLT UIN Jakarta yaitu -1,39 x 10-3 µg/Nm3. Hasil analisa tersebut jika dibandingkan dengan nilai ambang batas yang ditetapkan pemerintah masih jauh dari nilai ambang batas. Nilai ambang batas untuk NO2 yaitu 25 µg/Nm3. Ini bearti udara disekitar wilayah UIN Jakarta sedikit mengandung NO2.
NO2 dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama NO2 yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NO2 buatan manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas, dan bensin.
NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru ( edema pulmonari ). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang. Pemajanan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.
Selanjutnya, dalam penentuan kadar SO2 digunakan metode pararosanilin, dalam percobaan ini ditentukan konsentrasi SO2 udara ambient. Untuk penentuan konsentrasi SO2 dilakukan factor pengnceran Dari data yang diperoleh praktikan dan setelah dilakukan perhitungan (data dan perhitungan terlampir) diperoleh konsentrasi SO2 di depan Halte UIN Jakarta yaitu 1,05 µg/Nm3 dan konsentrasi SO2 di depan PLT UIN Jakarta yaitu 0,85 µg/Nm3. Hasil analisa tersebut jika dibandingkan dengan nilai ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah lebih kecil dibandingkan dengan nilai ambang batas. Hal ini bearti bahwa kadar SO2 diudara ambient sekitar kampus UIN Jakarta sedikt sekali. Nilai  ambang batas yang ditetapkan pemerintah yaitu 25 µg/Nm3.
Sepertiga dari jumlah sulfur yang terdapat di atmosfir merupakan hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga bagian lagi berasal dari sumber-sumber alam seperti vulkano dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida. Masalah yang ditimbulkan oleh bahan pencemar yang dibuat oleh manusia adalah ditimbulkan oleh bahan pencemar yang dibuat oleh manusia adalah dalam hal distribusinya yang tidak merata sehingga terkonsentrasi pada daerah tertentu. Sedangkan pencemaran yang berasal dari sumber alam biasanya lebih tersebar merata. Tetapi pembakaran bahan bakar pada sumbernya merupakan sumber pencemaran SO2, misalnya pembakaran arang, minyak bakar gas, kayu dan sebagainya Sumber SO2 yang kedua adalah dari proses-proses industri seperti pemurnian petroleum, industri asam sulfat, industri peleburan baja dan sebagainya.
Pencemaran SO2 menimbulkan dampak terhadap manusia dan hewan, kerusakan pada tanaman terjadi pada kadar sebesar 0,5 ppm. Pengaruh utama polutan Sox terhadap manusia adalah iritasi sistim pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit khronis pada sistem pernafasan kadiovaskular.
Dan terakhir yaitu penentuan NH3 digunakan metode Indofenol, dalam percobaan ini ditentukan konsentrasi NH3 udara ambient. Dari data yang diperoleh praktikan dan setelah dilakukan perhitungan (data dan perhitungan terlampir) diperoleh konsentrasi NH3 di depan Halte UIN Jakarta yaitu 0,23 µg/Nm3 dan konsentrasi NH3 di depan PLT UIN Jakarta yaitu 7,40 x 10-3 µg/Nm3. Hasil analisa tersebut jika dibandingkan dengan nilai ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah lebih kecil dibandingkan dengan nilai ambang batas. Hal ini bearti bahwa kadar NH3 diudara ambient sekitar kampus UIN Jakarta sedikt sekali. Nilai  ambang batas yang ditetapkan pemerintah yaitu 20 µg/Nm3.
Amoniak terdapat dalam atmosfer bahkan dalam kondisi tidak tercemar. Berbagai sumber, antara lain : mikroorganisme, perombakkan limbah binatang, pengolahan limbah, industry amoniak, dan dari system pendingin dengan bahan amoniak. Konsentrasi yang tinggi dari amoniak dalam atmosfer secara umum menunjukkan adanya pelepasan secara eksidental dari gas tersebut.
Sifat-sifat bahaya dari amoniak bagi kesehatan dalam efek jangka pendek (akut) adalah iritasi terhadap saluran pernapasan, hidung, tenggorokan dan mata terjadi pada 400-700 ppm. Sedang pada 5000 ppm menimbulkan kematian. Kontak dengan mata dapat menimbulkan iritasi hingga kebutaan total. Kontak dengan kulit dapat menyebabkan luka bakar (frostbite).
Sedangkan dalam efek jangka panjang (kronis) adalah menghirup uap asam pada jangka panjang mengakibatkan iritasi pada hidung, tenggorokan dan paru-paru. Amoniak termasuk bahan teratogenik. Reaktivitas amoniak stabil pada suhu kamar, tetapi dapat meledak oleh panas akibat kebakaran. Larut dalam air membentuk ammonium hidroksida.
Dari hasil analisa yang diperoleh dari percobaan tersebut, nilai konsentrasi yang didapatkan dari masing –masing parameter terdapat perbedaan diantara dua tempat tersebut. Nilai konsentrasi dari masing-masing parameter dari sampling udara didepan halte UIN Jakarta lebih besar dibanding konsentrasi masing-masing parameter dari sampling udara didepan PLT UIN Jakarta. Ini disebabkan karena didepan halte factor penyebab pencemaran udaranya lebih banyak seperti banyaknya berbagai jenis kendraan yang berlalu-lalang yang mengeluarkan gas berbahaya dari hasil sisa bahan bakar kendaraan tersebut. Jumlah kendaraan yang melintas di antara kedua lokasi juga berbeda, jumlah kendaraan ini dicantumkan pada lampiran.






V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 KESIMPULAN
·         Kadar konsentrasi masing-masing parameter sampel udara yang diuji semuanya dibawah nilai ambang batas
·         Volume sampling udara didepan halte UIN Jakarta yaitu 862,6516 L dan volume sampling udara didepan PLT UIN Jakarta yaitu 864, 6507 L.
·         Pencemaran udara diakibatkan oleh hasil pembakaran industry dan kendaraan bermotor

V.2 SARAN
            Dalam penentuan kualitas udara ambient seharusnya dilakukan saat cuaca benar-benar cerah. Dan untuk mengatasi masalah kebersihan udara diharuskan melakukan penanaman pohon agar udara yang ada disekitar kita benar-benar bersih dan tidak ada cemaran udara yang berbahaya.










DAFTAR PUSTAKA
·       Achmad, Rukaesih, 2004, “Kimia Lingkungan”, Yogyakarta : Penerbit Andi.
·       Ir. Yunita, etyn M. Si.2011.Penuntun Praktikum Kimia Lingkungan. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah.
·         KEPMEN/KLH no 02/MENKLH/1988
·       http ://Archieve.USU.ac.id/Sampling_udara (diakses pada tanggal 5 Desember 2011 pukul 20.00)
·         www.depkes.go.id/downloads/Udara.PDF (diakses pada tanggal 5 Desember 2011 pukul 20.00)
·         http://putraprabu.wordpress.com/2008/12/13/partikulat-pm/ (diakses pada tanggal 5 Desember 2011 pukul 20.00)

·       http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17455/4/Chapter%20II.pdf (diakses pada tanggal 3 Desember 2011 pukul 15.00)
·       http://siklus.lmb.its.ac.id/?p=519 (diakses pada tanggal 3 Desember 2011 pukul 15.00)
·       http://www.demochem.de/D-Azo-Dyes-e.htm (diakses pada tanggal 5 Desember 2011 pukul 20.00)
·       http://xa.yimg.com/kq/groups/1051902/867603111/name/PP+41+thn+1999+pencemaran+udara.pdf (diakses pada tanggal 5 Desember 2011 pukul 20.00)






No comments: